Taspunggung Story (bagian 2)

Mata sudah kiyep kiyep pas ada telpon berdering…

‘AMIE’  memanggil di Hape Nokia yang memang cukup lantang suaranya itu….kriiiing…kriiiing……

Bak Amie’s Angel, saya langsung berlari ngambil kostum pahlawan dan mengangkat telpon sambil melebar-lebarkan mata yang sudah 5 watt..

“Ada promo ke Saigon za…beli yuk, buat bulan Maret, pas ga banyak kerjaan tuh”

Sambil menggrepe-grepe tombol power di PC, saya langsung membiarkan kipas prosesor berputar lagi untuk mengantarkan saya ke web AirAsia. Si setan merah yang punya kans menguras tabungan gaji itu…

Welcome to AirAsia. Klik sekali…klik dua..tiga..empat akhirnya sampailah saya ke ‘Jakarta – Saigon’ dengan nominal 409 ribu rupiah.

Amie masih hold di telefon ketika saya mengabarkan “Iya, besok dibeli yaaa”

Klik…telefon mati dan sayapun lanjut tidur masih dengan kostum pahlawan berjubah biru doreng itu.

*****

Di kantor, begitu buka laptop, saya langsung ngecek lagi web yang semalam memampangkan harga 409 ribu itu dan taraaaa…. siyok melihatnya karena akhirnya harga tiket jadi 559 ribu pagi itu. Inflasi yang cukup menohok bagi rupiah tercinta.

Ya karena sudah niat dan sudah merasa kepalang urung mau dibatalkan setelah gangguan tidur di antara mimpi indah itu, akhirnya dengan beberapa kali klik dengan kartu kredit karatan karena jarang dipakai itu, terpesanlah tiket kami..

Saya menelefon radith, mencoba jadi setan siapa tau pria klimis berjambul tapi tanpa paspor itu mau ikut. Tak disangka radith langsung menyetujui ajakan saya ke Saigon walau dia tanpa paspor di tangan.

Hari-hari saya di kantor berikutnya dipenuhi dengan urusan paspor Radith yang dengan kilat langsung mengambil formulir aplikasi *background: tawa jahat Amie di telpon*

Dan beruntungnya Radith, dia mendapatkan harga 509 ribu justru karena issued tiket belakangan. Yah, itupun masih dengan pulsa yang tersedot karena saya salah menuliskan namanya yang sebenarnya gampang itu. Beberapa kali saya menelefon AirAsia untuk make sure bahwa tiketnya sah walau namanya beda sedikit tanpa selametan bubur merah putih.

Masa cuma bertiga ya? mcm noni-noni belanda dikawal dua cowo (yang alhamdulilah) ganteng selama perjalanan darat dari Saigon ke Kuala Lumpur.

Karena kekhawatiran anggapan orang itu kemudian saya membuka treat di salah satu situs jalan-jalan yang sedang populer. “Ngegembel (asli) di Indochina” Cuih…judul yang dramatis walau agak ndeso. Tapi justru saya mendapatkan 150an reply-an dari orang-orang di seluruh Indonesia untuk ikut serta dalam trip ini.

Mula-mula ada Wisnu, Arif, si dokter dari Malaysia, George yang kemudian membawa dua teman brondongnya, Trus kemudian beberapa teman saya yang saya beri woro-woro lewat aplikasi messenger juga turut serta. Reni, teman baik saya, kemudian juga mas Budi yang mengajak teman kantornya mba Yusni dari Batam, trus kemudian ada lagi teman Wisnu yang baru saya kenal itu juga minat untuk ikut, dan terakhir Lia yang dengan dramatisnya bilang “Ok, I’m in!” di hari-hari menjelang keberangkatan.

Tiga belas orang akhirnya turut serta dalam trip rame-rame kami menjelajahi Indochina. Apaaa?? Tiga Belas??

Saya agak phobia dengan angka 13. apalagi 13 orang yang bakal bergerombol dengan beberapa orang menasbihkan saya jadi ketua tim, termasuk untuk urusan izin ke orang tuanya. Hahahahaha…

Oke, jadi, itinerary fix nih ya, saya mulai woro-woro lewat email ke orang-orang baru yang saya kenal itu. Sistemnya on-off, saya membuat itinerary perjalanan untuk saya sendiri dan kalau mau misah atau bertemu lagi di suatu spot silakan.

Pertanyaan kemudian banyak muncul “Kalo begini bagaimana, kalo begitu bagaimana” whaaaini. Saya bekerja, mengejar target dan saya malah justru jadi operator seluler yang menerima komplain dari para backpacker (yang sebagian ternyata gadungan).

“Aduh, aku ga bisa kalau ga pake AC, bisa gak hotel di Siem Reap yang ada ACnya?”

“Asalamualaikum Reza, saya mau nanya, nanti habis berapa ya kira-kira” dan saya jawab “4 juta untuk dua minggu” eh, beliau reply lagi “rinciannya bagaimana ya?” (-__-“)

Belum lagi ada pertanyaan “Nanti ada panti pijat plus-plus gak?” Nah, ini nih…!!

Singkat cerita akhirnya saya membuat rincian itinerary perjalanan, beserta jamnya, naek bus apa, pilihan hotelnya, alternatifnya, budgetnya untuk memuaskan hasrat ingin tahu dari mas-mas mbak-mbak peserta playgroup tour de Indochina itu. Pertanyaan kemudian menurun drastis ketika saya mengirimkan itu ke email mereka. Trust me, emailing them will works! *begaya pria dengan perut kotak-kotak *

Saya menyempatkan diri untuk bertemu tim yang akan berangkat dari Jogja. George dengan dua temannya, Radith, dan Reni. Kami bertemu di KFC sambil anjangsana-sini dan tanpa terasa dua ayam  yang saya pesan habis sempurna.

Sementara itu, di grup BBM yang tadinya cuma berisi 6 orang akhirnya ketambahan banyak orang, terutama dari treat saya di situs yang saya sebutkan tadi.

*****

Tak terasa hari keberangkatan telah tiba. Dengan naik bus Ramayana tujuan Bogor, saya dan Radith meninggalkan Jogja. Saya sengaja untuk menginap semalam sebelum keberangkatan untuk kopi Darat grup Taspunggung yang sudah mulai ramai orang itu. Saat itu adalah tanggal 18 Maret 2012 dan kemudian menjadi hari jadi grup ini…

Advertisements

4 responses to “Taspunggung Story (bagian 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s