Bagaimana Taspunggung Bermula

Biang keladi kegemaran saya ngecap paspor adalah sebut saja tas punggung. Kelompok yang cair ini selalu keluar masuk orang baru dan orang yang raib takberbekas karena sudah bosan dengan dunia nomaden yang tiap malam melotot cari tiket murah dan tiap bulan sekali selalu ngecap paspor entah kemana.

Amie adalah teman pertama saya cikal bakal tas punggung terbentuk. Ibu pejabat sekaligus wanita karir ini selalu masih saja nyempetin mau disetanin pas kemanapun saya mau pergi.

“Asal weekend gw mau deh zaaa, gw ga mau lagi cuti, bos gw udah ngomel ngomel mulu ni gw pergi mulu….” itu celotehnya di BBM yang berlanjut dengan trip kami yang memang mulainya dari weekend dan berakhir di weekend dua minggu setelahnya alias 2 minggu liburan..

Liburan pertama kami adalah tahun baruan ke Sarangan. Sarangan yang indah itu adalah nama obyek wisata di kaki gunung Lawu. Sebuah telaga indah dikelilingi puluhan hotel dan resort saat itu bertekuk lutut pada banyaknya pendatang yang ingin menghabiskan tahun baru disana.

“Pokoknya gw harus pergi tahun baruan ini, ga boleh dirumah” Amie mulai ngomel-ngomel ala ibu-ibu di acara masak memasak di televisi. Dan jadilah kami berangkat berdelapan menyewa satu mobil dengan teman-teman saya yang menjadi teman-teman baruannya Amie.

Kali ketiga Amie berkunjung ke Yogyakarta adalah ketika saya sedang benar-benar disibukkan oleh pekerjaan saya. Saya meminta tolong kepada seorang bankir sukses, Radith yang saat itu memang sedang masa-masanya dia bekerja di luar kantornya untuk menjadi guide dadakan untuk Amie selama jam kantor saya. Cowok satu ini selalu berpenampilan kelimis dengan jambul menjulang tinggi seperti ombak di parangtritis.

Dia menjemput Amie yang saat itu saya bawa ke kantor karena saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Radith menjemput dengan menggunakan motor honda kesayangannya dan tak diduga-duga mereka memilih Gembira-Loka untuk one day trip hari itu.

“Zaaa…ini Radith masa malah minta difotoin muluuu…tiap 15 meter dia berhenti minta foto..!!!”

Yess….jiwa narsis Radith yang tinggi membuat ratusan foto di hapenya adalah foto mukanya dalam berbagai pose. Bakat preman dari pekerjaan sampingannya sebagai debt-collector dikalahkan oleh jiwa berbunga-bunga ketika melihat lensa kamera, kamera hape, kamera poket, kamera SLR, lomo dan lain sebagainya..

Jadilah kami bertiga berteman akrab dengan segala guyonan melalui aplikasi blackberry messenger sebagai media kami berkomunikasi.

Suatu saat ketika kami sedang sibuk bekerja masing masing, sebuah invitasi dari blackberry group yang dibuat oleh Amie inilah yang kemudian kami beri nama taspunggung. Tidak lupa tagline pertama kami: jalan suka-suka dibubuhkan di bawah nama group yang kemudian menjadi group blackberry yang sampai sekarang tidak ada matinya.

Selama berbulan-bulan pertama group gak jelas ini menjadi salah satu group dengan penghuni tiga orang saja namun tidak pernah sepi dari celotehan kami menertawakan hidup, menjadi ajang ngrasani bos yang killer, atau bos yang tidak mau tahu urusan bawahannya hingga gosip dari artis muda ternama di Indonesia macam Suzanna atau Julia Perez.

Pemegang Kunci masih tetap hanya satu, Amie dengan dua anggota di dalamnya. Saat itu bahkan kami tidak membahas hunting tiket murah, atau pergi ke sana atau kesinilah. Hanya teriakan “Kami butuh liburan..!!” yang selalu nongol dari salah satu dari kami dan yang lain hanya menimpali “Yuuukk…!!” tanpa ada tindak lanjut.

Suatu saat ketika pekerjaan saya sudah mencapai masa surutnya, kartu kredit saya yang selalu nganggur ini mulai saya lirik dari dompet saya. “Kemana lagi kita?” dan sayapun mulai lirik-lirik website maskapai murah seperti Tiger, Cebu atau AirAsia dan menemukan beberapa tiket murah, saya ingin mengulang perjalanan saya menjelajahi IndoChina yang telah saya lakukan sebelumnya namun tidak solo-trip seperti sebelumnya. Saya ajaklah Amie dan Radith untuk ikut serta dengan jawaban mantap mereka “ayoook!!”

Tidak ketinggalan saya mengajak Indra dan Clara, teman yang saya ketemu pas perjalanan saya ke Vietnam sebelumnya. Namun kesibukan Clara kuliah dan Indra bekerja membuat mereka tidak dapat turut serta. Indra yang berkenalan dengan Eki karena mereka satu pesawat di Vietnam, justru mengenalkan Eki kepada kami. Jadilah Eki saya masukkan ke grup taspunggung dan justru menyeret Indra dan Clara juga masuk ke dalamnya.

Saat itulah grup mulai ‘sedikit’ ramai dengan hal-hal yang berbau tiket dan perjalanan dan jadilah grup ini menjadi semacam grup jalan-jalan…

Advertisements

2 responses to “Bagaimana Taspunggung Bermula

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s