Good Bye Myanmar

Mengakhiri sebuah perjalanan selalu berat. Terbiasa berpindah tempat dengan segala macam keanekaragaman manusia yang ditemui membuat kembali ke rutinitas akan tampak sangat membosankan.Ok,mungkin kita sudah kangen dengan masakan rumah yang paling pas di lidah kita, kangen dengan keluarga di rumah atau kasur kita yang paling nyaman untuk ditiduri..Tapi ya time’s ticking. Bagaimanapun kita harus kembali ke realitas.

Myanmar at glance sangat menarik bagi saya. Paling tidak masyarakatnya yang sangat jujur dan ramah tanpa pamrih membuat saya merasa aman bagi saya untuk slebor meletakkan sepeda sewaan di sembarang tempat tanpa takut dikunci. Kalau boleh dirinci,beberapa hal ini yang saya suka selama perjalanan saya di Myanmar:

1. Food street everywhere
Makanan khas yang dijajakan di pinggir-pinggir jalan beberapa saya sukai. Mix noodle salad atau mereka menyebutnya dengan asòuntok sangat lezat. Campuran berbagai macam ukuran dan bahan dari mie disiram dengan saus mirip barbeque ini cuma dijual dengan harga 200 kyats atau 2200 rupiah saja. Belum lagi es tebu segelas besar tanpa campuran air ditambah air jeruk nipis cuma dijual 300 kyats. Makanan lain juga banyak dijual seperti lumpia isi jagung dengan saus barbeque hanya 100 kyats. Nah,pertanyaannya cuma apakah perut kita betah dengan makanan yang mungkin kurang hygiene.
Makanan di Myanmar sepertinya terinfluence dari negara india dan china. Banyaknya kampung-kampung India bengali muslim juga membuat kita mudah mendapatkan makanan halal terutama di Yangon sebagai kota destinasi. Saya juga menyempatkan mencoba makan nasi yang dimasak mirip biryani dan bola daging masak santan dan kecap yang dihargai cuma 550 kyats saja. Lupakan makanan restoran di Myanmar yang berharga ribuan kyats itu.Live as local and you will stay longer (with good budget tentunya).

2. Pagoda-pagoda berukuran bermunculan dimana-mana.

Lupakan Thailand untuk masalah pagoda. Mungkin kita dapat menyamakannya dengan Cambodia dimana pagoda besar dan indah yang berkilau keemasan memantulkan cahaya matahari. Berpenampilan ala orang lokal dapat ‘membebaskan’ kita dari entrance fee yang relatif mahal itu. Jangan lupa ke Shwe Dagon, angkor wat-nya Myanmar.

3. Bersepeda kemana-mana tanpa ada motor

Bukan tidak ada motor tepatnya,tapi sangat sedikit motor. Saya hanya jumpa motor beberapa kali selama di Myanmar. Harga sewa sepeda yang murah,sekitar 1500 kyats perhari bisa jadi alternatif dari transportasi bus umum yang sulit dikenali rutenya karena nomor bus mungkin tidak bisa kita baca.

4. Bersarung kemana-mana

Kemana lagi kita bisa sarungan di mal? Atau saat nonton bioskop bahkan ketika naik pesawat terbang kalau tidak di Myanmar. Cara mereka memakai sarung juga khas. Lebih mirip seperti memakai kain pantai dengan simpul ikatan di depan perut.

5. Masyarakatnya yang ramah dan jujur.

Mungkin nyaris tidak ada scam atau penipuan-penipuan disini. Turis masih diperlakukan sama dengan orang lokal. Tidak ada supir taxi berebut penumpang,atau pedagang ngemplang harga untuk turis. Tapi uniknya,disini harga transportasi kereta dibedakan menurut negara asal. Waktu saya membeli tiket ke Nay Phi Daw,mereka bertanya darimana kita dan melihat daftar negara yang dilengkapi dengan harga tertera di belakangnya.

Saya dengar dari orang lokal,setelah tahun baru lewat akan ada beberapa perubahan regulasi yang akan lebih meng-internasionalisasi Myanmar. Booming jumlah turis ke negara ini juga telah menyebabkan kondisi ekonomi dan infrastruktur berubah cepat. Apalagi sebagai tuan rumah SEA Games 2013 mereka tampak sibuk membangun venue-venue olahraga dengan infrastruktur pendukungnya. Jalanan tampak dibeton dimana-mana dan stadion megah baru telah siap untuk digunakan. Gedung-gedung bertingkat baru yang megah juga sedang dibangun untuk menggantikan usangnya bangunan-bangunan terutama di Yangon dan Mandalay.

Nah,sebagai turis apa yang kita pilih? Kalau ingin orisinalitas Myanmar berkunjunglah secepat mungkin. Tapi jika menginginkan kota besar yang mudah dikunjungi dengan peta tersebar dimana-mana dengan tulisan latin di setiap penunjuk jalan,tunggulah satu atau dua tahun lagi..

Advertisements

8 responses to “Good Bye Myanmar

  1. mas, mau tanya untuk kedatangan dan kepulangan di Yangon Airport, apakah ada biaya yang harus dibayar di airport? karena saya pernah membaca blog asing yang mengatakan bahwa dia diminta USD10 di airport Yangon sebelum pulang ke negaranya.

    • Sekarang airport tax sudah disatukan ke tiket. jadi udah ngga ada lagi yang dibayarkan di airport. Kayaknya mmg belom lama, tadinya ada tax sktr 10 USD.

  2. Pakai visa on arrival atau saya harus apply visa dulu ya. Saya tanya ke orang myanmar nya, mereka bilang cukup pakai surat pengantar dari mereka dan nanti jd visa on arrival. Bisa tolong kasih masukkan? Thanks

    • sampai april kemarin VoA masih beta tested. Jadi belom bisa. tp kemaren dapet info dari temen2 di grup messenger, katanya skrg (3 hari yg lalu) bisa. kalo mmg mukim di jakarta, ga ada salahnya jg apply visanya di kedutaan karena cukup gampang dapet visanya dan harganya pun cuma 20 USD.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s