Kuil Sam Po Kong, Sejarah Peninggalan Pengaruh China di Semarang

Sejarah Bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kuat kebudayaan China masa lalu. Pondasi budaya Indonesia saat ini sangat erat sekali kaitannya dengan migrasi bangsa China ke Indonesia di masa lalu yang saat ini dapat kita lihat melalui budaya dan bangunan peninggalan China di Indonesia. Salah satunya adalah Kuil Sam Po Kong di Semarang. Kuil yang terletak di daerah Simongan ini memang tidak terlalu tampak dari pinggir jalan, namun kalau kita menyempatkan masuk, wah, kuil ini tidak kalah megah dari kuil lain dan kita akan berasa sedang benar-benar mengunjungi negeri China.

Sam Po Kong

Sam Po Kong

Komplek Sam Po Kong merupakan petilasan dari laksamana Zheng He (lebih dikenal dengan nama Cheng Ho) ketika berlayar menyusuri pantai utara dan berlabuh di salah satu kota pada abad 15 yang sekarang kita kenal sebagai Semarang. Konon ketika salah satu anak buahnya sakit keras, armada kapalnya memutuskan untuk mendarat di cikal bakal semarang dengan menyusuri Sungai Kaligarang. Di suatu desa yang bernama Simongan, di tepi Sungai tersebut, akhirnya Zheng He bersama anak buahnya mendarat dan nahkoda kapal terkenal tersebut menemukan Gua dan menyempatkan diri untuk bersemedi. Gua yang digunakan untuk bersemedi tersebut hingga kini masih dijaga kelestariannya dan menjadi salah satu bagian paling penting dalam peziarahan di kuil ini. Zheng He sendiri merupakan salah satu orang kepercayaan Kaisar Yongle dari China. Zheng He berasal dari daratan Yunnan, China Selatan dan dijadikan seorang kasim ketika terjadi pendudukan Yongle di daerah tanah kelahirannya. Cheng Ho membawa sekitar 27.000 anak buah dalam perjalanannya mengarungi lautan hingga selesai di Madagaskar dengan menaiki 300 lebih kapal layar bambu China yang berukuran sangat besar.

Dua setengah abad kemudian, setelah terjadi banyak akulturasi kebudayaan diantara penduduk setempat dengan anak buah Sam Po Kong yang telah menetap dan kawin, diadakan pembangunan besar-besaran pada kuil ini untuk menghormati jasa Laksamana Cheng He. Walaupun Cheng Ho sendiri beragama Islam, karena banyaknya anak buahnya yang dibawa dari negeri China tidak beragama Islam, pengaruh ini lebih kuat berimbas pada penduduk sekitar. Gua yang dijadikan tempat bertapa Cheng Ho yang telah runtuh di awal abad 17 karena disambar petir kemudian dibangun kembali.Untuk menghiasinya, pada gua ini juga didatangkan patung empat anak buah Laksamana Cheng Ho dari China.

Patung patung anak buah Cheng Ho

Patung patung anak buah Cheng Ho

Gerbang Kuil Sam Po Kong

Gerbang Kuil Sam Po Kong

Namun sayangnya pembangunan ini tidak memberikan manfaat bagi penduduk sekitar. Karena tanah dimana Kuil Sam Po Kong ini berdiri kemudian dikuasai oleh tuan tanah yang mengharuskan orang yang ingin beribadah di tempat ini membayar sejumlah uang. Karena keberatan dengan jumlah uang yang dibayarkan, maka para peziarah membangun tempat peziarahan dengan menempatkan duplikat patung Sam Po Kong di Kuil Tay Kak Sie.

Setiap tanggal 29 atau 30 bulan ke enam penanggalan imlek China, duplikat patung Sam Po Kong ini diarak dari Kuil Tay Kak Sie ke kuil Sam Po Kong untuk meminta berkah dari patung yang asli. Pada tahun 1879 kawasan Simongan ini kemudian berpindah pemilik. Pemilik baru, Oei Tjie Sien merupakan tokoh yang lebih dermawan. Sejak itu peribadahan di kuil ini tidak dipungut biaya. Bahkan di tahun-tahun 1930-an, kemudian arak-arakan Patung Sam Po Kong ini kemudian diadakan lebih meriah di bawah yayasan Sam Po Kong. Hal ini kemudian dilakukan rutin setiap tahunnya yang kini menjadi agenda kota semarang sebagai perayaan tahunan peringatan pendaratan Zheng He.

Salah satu bangunan kuil

Salah satu bangunan kuil

Kuil ini ditambah dengan banyak bangunan baru terutama saat perayaan peringatan 600 tahun Sam Po Kong yang masih terjaga hingga sekarang.

Salah satu penambahan bangunan di komplek Kuil Sam Po Kong

Salah satu penambahan bangunan di komplek Kuil Sam Po Kong

Buat saya pribadi, detail pembangunan kuil ini tidak kalah dengan komplek kuil Budha yang berukuran besar dan megah. Komplek yang saat ini relatif terletak di tengah kota ini mudah dicapai karena sangat dekat dari Tugu Muda Semarang yang merupakan tempat bersejarah lain di Kota Semarang ini. Pengunjung hanya dikenakan biaya masuk Rp. 3000 untuk masuk ke dalamnya.

Sumber:

Advertisements

2 responses to “Kuil Sam Po Kong, Sejarah Peninggalan Pengaruh China di Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s