Keramahtamahan ala Indonesia di Guangzhou

Setelah menaiki dua kereta cepat G class dari Shenzen ke Guangzhou dan D-Class selama 10 jam dari Hangzhou ke Shenzen, akhirnya saya sampai di stasiun kereta Guangzhou yang superbesar itu. Suhu jauh lebih hangat dibandingkan ketika saya meninggalkan Hangzhou jam 7 pagi dimana matahari belum tampak sama sekali di sana. Guangzhou menyambut saya, sekali lagi dengan hiruk pikuk orang yang tidak peduli satu sama lain.

Saat itu pukul 08.30 malam dan saya tidak tahu sama sekali mengenai kota ini. Karena ini hampir nyaris pada akhir perjalanan saya ke China selama tiga minggu, maka Guangzhou yang menjadi kota ke tujuh di perjalanan saya kali ini tidak sempat saya persiapkan. Saya menginap di  daerah Zhongsanba yang terletak di bagian barat kota Guangzhou yang superbesar itu.

Setelah menaiki dua line MRT di Guangzhou selama satu jam, akhirnya saya sampai di stasiun MRT Zhongsan-ba. Agak sedikit sulit untuk menemukan hostel yang ternyata di lantai 19 sebuah apartemen dengan banyak tower. Setelah bertanya dengan beberapa orang baru akhirnya saya sampai di hostel Sunshine yang berwujud sebuah apartemen itu

Surprise bagi saya karena pemilik hotel ternyata seorang Ibu-ibu berkebangsaan Indonesia yang berasal dari Surabaya. Wah, lidah jawa timuran yang kental dari Ibu itu membuat saya feel homy di apartemen yang disulap menjadi sebuah hostel itu.

Malam pertama karena sudah terlalu larut, saya hanya turun sebentar untuk makan di restaurant muslim yang terletak di seberang jalan apartement. Nasi dengan Sapi dan Jamur menjadi pilihan saya malam itu. dengan harga yang hanya 12 Yuan saya cukup kenyang karena porsi orang China yang memang jumbo itu.

makan malam di tempat langganan. tinggal tunjuk, served hot for you...

makan malam di tempat langganan. tinggal tunjuk, served hot for you…

Hostel yang saya pilih sangat nyaman dengan view jendela Liwan Lake park yang kelap kelip diwaktu malam. Kebetulan hostel ini cukup sepi dengan 8 bed yang disediakan cuma 3 bed yang terisi. Ibu itu banyak bercerita mengenai bagaimana beliau terdampar di Guangzhou dan akhirnya menikah dengan penduduk lokal Guangzhou. Nah, jadilah saya menjadi akrab dan bahkan diajak untuk berbelanja, ditunjukkan tempat-tempat membeli oleh-oleh dan juga bahkan menemui calon tamu yang akan menginap disana. Keramahtamahan ala Indonesia setelah terasing lebih dari setengah bulan di China.

Pemandangan dari Kamar Hostel

Pemandangan dari Kamar Hostel

waktu siang

waktu siang

Hari kedua saya mengunjungi dua obyek di Guangzhou dengan banyak berjalan kaki. MRT yang menurut saya bertarif lumayan mahal membuat saya lebih memilih berjalan kaki untuk menuju obyek-obyek yang dekat dengan hostel tempat tinggal saya di Zhongsanba-lu.

Guangzhou relatif tidak banyak obyek wisata berskala internasional yang dijual. Banyaknya sungai-sungai dan danau membuat tata kota di Guangzhou relatif ‘sejuk’ dan banyak area publik dapat dinikmati disana tanpa membayar.

Liwanhu Lake

Liwanhu Lake

Liu Hua Lake

Liu Hua Lake

Bagi yang memang suka mengasingkan diri di antara rerimbunan gedung-gedung tinggi dengan banyak tempat yang santai, maka guangzhou dapat menjadi pilihan yang oke. Kita dapat sekedar duduk-duduk di tepi danau membaca buku atau melihat penduduk sekitar yang lebih ramah dari kota-kota lain di China bagian Timur.

Untuk beberapa obyek yang saya kunjungi, dapat membaca postingan saya yang lain mengenai Guangzhou.

Advertisements

6 responses to “Keramahtamahan ala Indonesia di Guangzhou

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s