Mampir ke Mempawah, Kalimantan Barat

Sekitar 75 kilometer perjalanan darat dari Pontianak, saya mampir ke Mempawah dalam perjalanan menuju Kota Sambas. Kota kecil di tepian pantai barat Kalimantan ini merupakan bagian wilayah dari Kerajaan Panembahan Mempawah yang sudah berkuasa sejak hampir delapan abad yang lalu. Mempawah kemudian menjadi kerajaan Melayu Islam dibawah Opu Daeng Menambon bergelar Pangeran Mas Surya Negara (1740–1761 M) dan menjadi kerajaan penting di kala itu.

Pontianak - Mempawah

Pontianak – Mempawah

Akulturasi kebudayaan asli suku Dayak dan Melayu menghasilkan tata cara unik dalam berkehidupan. Itu dapat dilihat dari istana Mempawah yang masih bercirikan bangunan suku Dayak dengan ukiran unik mereka namun menggunakan kebudayaan Islam dalam adat istiadatnya yang merupakan tipikal kerajaan-kerajaan di Kalimantan.

Keraton Kerajaan Mempawah

Keraton Kerajaan Mempawah

Hingga saat ini, keraton ini masih tetap melestarikan budaya mereka dan rakyat masih menghormati keberadaan kerajaan ini. Tradisi yang masih terjaga hingga saat ini adalah tradisi robo-robo yang awalnya diperingati pada saat kedatangan rombongan Opu Daeng Manambon dan Putri Kesumba yang merupakan cucu Panembahan Mempawah kala itu yakni, Panembahan Senggaok yang merupakan keturunan Raja Patih Gumantar dari Kerajaan Bangkule Rajangk Mempawah pada tahun 1148 Hijriah atau 1737 Masehi.

Pada saat itu Opu Daeng Manambon dan istrinya Putri Kesumba ke Mempawah, bermaksud menerima kekuasaan dari Panembahan Putri Cermin kepada Putri Kesumba yang bergelar Ratu Agung Sinuhun bersama suaminya, Opu Daeng Manambon yang selanjutnya bergelar Pangeran Mas Surya Negara sebagai pejabat raja dalam Kerajaan Bangkule Rajangk.

Berlayarnya Opu Daeng Manambon dari Kerajaan Matan Sukadana (Kabupaten Ketapang) diiringi sekitar 40 perahu. Saat masuk di Muara Kuala Mempawah, rombongan disambut dengan suka cita oleh masyarakat Mempawah. Penyambutan itu dilakukan dengan memasang berbagai kertas dan kain warna warni di rumah-rumah penduduk yang berada di pinggir sungai. Bahkan, beberapa warga pun menyongsong masuknya Opu Daeng Manambon ke Sungai Mempawah dengan menggunakan sampan.

Robo-Robo

Robo-Robo

Makan bersama dalam tradisi Saprahan

Makan bersama dalam tradisi Saprahan

Besarnya sambutan tersebut membuat, Opu Daeng Manambon pun memberikan bekal makanannya kepada warga yang berada di pinggir sungai untuk dapat dinikmati mereka juga. Karena saat kedatangannya bertepatan dengan hari Minggu terakhir bulan Syafar, lantas rombongan tersebut menyempatkan diri turun di Kuala Mempawah. Selanjutnya Opu Daeng Manambon yang merupakan keturunan dari Kerajaan Luwu Sulawesi Selatan, berdoa bersama dengan warga yang menyambutnya, mohon keselamatan kepada Allah agar dijauhkan dari bala dan petaka. Usai melakukan doa, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Prosesi itulah yang kemudian dijadikan sebagai awal digelarnya hari Robo-robo, yang saban tahun rutin dilakukan warga Mempawah, dengan melakukan makan di luar rumah bersama sanak saudara dan tetangga.Robo-robo itu kemudian diperingati pada hari Senin malam Selasa terakhir bulan Syafar guna mengenang hari wafatnya Opu Daeng Manambun. Bagi warga keturunan Bugis di Kalbar, robo-robo biasanya diperingati dengan makan bersama keluarga di halaman rumah. Tidak hanya di rumah, makan bersama juga dilakukan siswa di berbagai sekolah baik tingkat SD hingga SMU pada Rabu pagi.

Pada hari biasa, kota Mempawah sangat tenang. Tipikal pesisir kalimantan Barat yang saya jumpai adalah banyaknya tempat nongkrong berupa warung kopi dan pusat keramaian di beberapa titik dengan penjual makanan yang banyak berkumpul di tempat itu.

Semacam food court di Mempawah

Semacam food court di Mempawah

ini yang jual burger dan juicenya

ini yang jual burger dan juicenya

 

Saya mencoba beberapa makanan di Mempawah. Dari informasi teman, saya disarankan mencoba Apam Pinang, snack lokal yang menurut saya mirip dengan martabak manis, namun diisi dengan beras ketan merah dan parutan kelapa. lezat!!

Apam Pinang

Apam Pinang

Selain  apam seharga 5000 rupiah setangkup ini, saya juga mencoba burger lokalnya yang menurut saya memang agak extraordinary rasanya dengan segelas juice sirsat kental yang terlalu banyak susu. Sup tulang sapi juga menjadi makanan lezat malam itu. Ah, andai saja lebih lama saya berada di kota ini, tentu saja semua makanan lezatnya akan saya coba…

Advertisements

6 responses to “Mampir ke Mempawah, Kalimantan Barat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s