Delapan Tips nge-Trip dengan Banyak Orang

Sudah pernah pergi liburan dengan banyak orang? Entah itu dua, tiga, sepuluh atau empat belas orang sekaligus?  Saya pernah mengalaminya. Bepergian dengan banyak orang ada suka dan dukanya. Apalagi kalau kita yang menjadi semacam tour leadernya dimana semua orang menyerahkan persiapannya (termasuk membelikan tiket perjalanan dan booking hotel mereka). Terlebih jika orang-orang yang kita ajak masih awam untuk pergi ke suatu tempat yang jauh, misalnya luar negeri…

Saya mengalami beberapa kali. Salah satunya ketika saya memposting rencana perjalanan saya ke luar negeri di situs backpackerindonesia.com. Karena postingan saya unggah sekitar tiga bulan sebelum keberangkatan, maka banyak sekali comment yang masuk untuk ikut dalam trip saya kali itu: Jelajah Indochina.

Mula-mula hanya orang-orang yang sekedar gatal ingin comment, minta ID wazap, PIN BBM dan nomer kontak untuk tanya ini itu tanpa kelanjutan. Namun menjelang keberangkatan, mereka confirm untuk ikut dan sudah membeli tiket. Beberapa diantaranya, perjalanan menjelajah indochina itu adalah resolusi hidup mereka: ke luar negeri untuk pertama kalinya.

Tips Pertama saya adalah: jika menjadi tour leader, siapkan kartu SIM yang murah untuk menelepon dan sms. Iya kalau mereka punya smartphone untuk menggunakan messenger untuk berhubungan dengan kita, kalau tidak? akan ada ping-pongan SMS atau telpon kesana kemari. Saat itu saya menggunakan XL pascabayar, dan meledaklah tagihan saya.

Mula-mula mereka memperkenalkan diri, meminta info bagaimana itinerary perjalanannya kelak, belum lagi nanya status perkawinan, alamat rumah dan sampai ada yang meminta saya untuk memintakan izin ke orang tua-nya untuk ngetrip bareng saya dengan jaminan saya tidak menjadi PHP bagi mereka. Keren bukan?

Ada juga yang menelepon tiap hari untuk update perjalanan dan hitung-hitungan budget perjalanan dan resiko keamanan perjalanan yang saya pilih di tiap tempat. Bahkan ada yang nanya pembuatan visa untuk trip ke Indochina susah atau tidak. Nah lho??

Tips Kedua saya adalah: mengirimkan itinerary perjalanan dalam bentuk word dengan detil budget pengeluaran kepada ‘para peserta’. Repot memang. Tetapi membuat itinerary perjalanan tertulis yang sangat detil akan membantu untuk mereduksi pertanyaan-pertanyaan dari peserta tour gratis itu. Bagaimana menuju suatu tempat, jadwal bus beserta harganya, biaya masuk obyek, tempat pijat plus-plus yang termurah (ha??), hingga rincian waktu perjalanan yang rigid.

Kenapa dalam bentuk word? Pernah saya coba untuk mengirimkan dalam bentuk PDF, tetapi masukan-masukan dari travelbuddies yang akan itu harus saya lagi yang menambahkannya dan editannya harus dikirim ulang ke semua travelbuddies itu. Dengan word, kita dapat mempersilakan mereka untuk menambahkan sendiri spot-spot yang mereka mau kunjungi.

Cantumkan juga link-link informasi seperti pilihan hotel, informasi obyek wisata dan travel agent di suatu tempat sehingga mereka dapat membuka tautan link-nya sendiri dan memberi penilaian terhadap pilihan-pilihan kita. Terkadang ada yang tidak setuju dengan hotel yang kita pilih karena terlalu mahal, lokasi yang jauh, terlalu horor, atau mereka mempunyai pilihan sendiri. Nah, biarkan mereka untuk memilih hotelnya sendiri jika kita sudah terlanjur booking di satu hotel dan juga cantumkan pula meeting point yang disepakati di tiap tempat jika pilihan tempat menginap sudah terlanjur tersebar-sebar.

Yang menjadi tips ketiga saya adalah memaklumi sistem on-off di perjalanan. Apa itu sistem on-off? Terkadang setelah di tempat, beberapa orang atau bahkan kita sendiri berpikiran untuk mengubah route perjalanan, extend di suatu tempat atau bahkan melanjutkan perjalanan sebelum waktunya dengan alasan bosan, tidak sesuai dengan harapan, atau ingin mengunjungi tempat baru yang diketahui selama perjalanan. Nah, kita dapat janjian untuk bertemu lagi di spot selanjutnya jika masih memungkinkan. Ingat, kita adalah manusia merdeka yang boleh kemana saja tanpa dibatasi oleh aturan perjalanan harus sticky dengan seluruh anggota perjalanan dari awal hingga akhir.

Tidak hanya mereka para travelbuddies yang dipersilakan untuk on off. Kita sendiripun sudah harus memberi notifikasi kemungkinan on off kita kepada teman-teman perjalanan.

Berkaitan dengan itu, jika kita sudah membooking penginapan, booking bus/kereta/pesawat, booking keikutsertaan kita dalam object tour secara bersama sama, kirimkan email kepada seluruh peserta dalam satu kode booking sebelum keberangkatan sehingga mereka bebas untuk on off tanpa harus cari tempat ngeprint atau sekedar wifi untuk mengirimkan kode booking/bukti booking selama di perjalanan. Jika kita berhati mulia, print-kan semua kode booking dan dibagi ke seluruh peserta.

Tips keempat adalah siap disemprot. Ini disemprot mulut, bukan semprot air atau semprot yang lain. Terkadang karena kita juga tidak tahu kondisi sebenarnya di lapangan, apa yang telah kita persiapkan tidak berjalanan sesuai rencana. Nah, karena di perjalanan kondisi kita sering capek, maka kadang sifat-sifat asli akan muncul.

Tidak menutup kemungkinan orang akan mulai mengomel, marah-marah satu sama lain, atau sekedar mencari teman untuk saling nge-gap memunculkan kelompok-kelompok yang nge-spik satu sama lain karena ketidaksukaan. Terlebih jika kita adalah orang-orang baru satu sama lain sehingga belum begitu kenal. Hal itu wajib diatasi dengan membiarkan mereka nge-gap. Kenapa justru dibiarkan? Karena jika dipaksakan untuk berbaur justru akan pecah adu mulut terbuka sepanjang perjalanan. On-off dapat menjadi pilihan tepat jika ada satu atau sekelompok orang yang tidak suka dengan itinerary perjalanan atau sikap orang lain dalam satu rombongan.

Tips kelima adalah memberitahukan ‘titik lelah’ kepada seluruh peserta rombongan.

Dalam rincian itinerary perjalanan saya, saya selalumemperkirakan di tempat mana saja kita akan merasa capek berdasarkan waktu tidur yang mungkin kurang karena jadwal yang padat, atau spot tempat yang mungkin akan capek karena malam sebelumnya kita harus tidur di perjalanan. Hal itu jika diberitahukan sebelumnya, mereka yang merasa fisiknya akan lelah akan memikirkan ide perjalanan mereka sendiri, atau skip di satu tempat dan menunggu di hotel. Biasanya akan muncul diskusi alternatif perjalanan untuk mereka yang sudah merasa tidak mampu mengikuti perjalanan di beberapa tempat yang akan kita tuju.

Tips keenam dalam perjalanan kelompok adalah menyisihkan uang kita untuk dikumpulkan oleh bendahara dan digunakan selama perjalanan.

Kenapa? terkadang ada orang yang pelit untuk mengeluarkan uang untuk hal-hal kecil sepanjang perjalanan. Disisi lain, ada orang yang terlalu royal membayar seluruh pengeluaran (terutama pengeluaran kecil). Hal itu kadang akan memunculkan rasa tidak suka. Dengan mempunyai uang kas bersama, kita juga akan menghemat waktu untuk sekedar saweran membayar makan, uang masuk obyek, biaya transportasi. Jika ada pengeluaran lebih karena satu orang, terutama ketika makan, tentukan harga rata-rata dan orang yang makan dengan menu lebih banyak atau lebih mahal diwajibkan untuk membayar kelebihan dari harga rata-rata tersebut.

Tips ketujuh adalah membagi beban mencari informasi perjalanan untuk pembuatan itinerary kepada seluruh peserta trip.

Satu orang diharuskan untuk mencari informasi hotel dan membookingnya, satu orang akan mendapat tugas menukarkan uang untuk seluruh peserta trip, sementara yang lain dibagi tugas untuk mencari informasi suatu obyek sebelum keberangkatan dan membeli tiket masuknya secara online. Dengan pembagian tersebut kita dapat mengurangi kerepotan mempersiapkan segala sesuatunya di sela kesibukan kita sendiri. Bersikap tegaslah untuk mengatasi orang yang hanya mau terima jadi dan meminta maaf kepadanya untuk tidak ikut dalam perjalanan jika tidak mau diberi sedikit kerepotan mencari informasi

Tips kedelapan adalah tetap menjaga barang berharga dan menjaga kesucian walau ke sesama travelbuddies sepanjang perjalanan.

Walau kita sama-sama orang indonesia, atau sama sama memiliki route perjalanan yang sama, tetap waspada dengan apa yang kita bawa. Terkadang bepergian bersama walau terasa akrab bagaimanapun beberapa orang dari mereka adalah orang yang kita baru kenal. Bawalah barang berharga kita kemanapun kita pergi dan usahakan menitipkan barang kepada orang yang kita percaya saja.

Kamar dormitory yang terkadang tidak dilengkapi dengan locker penyimpanan bisa menjadi sasaran empuk bagi pencuri-pencuri yang berkeliaran di kamar kita sendiri. Selalu ikatkan juga barang kita sepanjang perjalanan di bus/kereta untuk menjaga barang dari sasaran pencuri.

Perjalanan dengan orang lain memang membutuhkan tenaga extra untuk dilalui. Selalu hargai itinerary yang sudah kita buat sendiri sehingga perjalanan akan berjalan tepat waktu. Jangan membawa barang terlalu banyak sehingga disamping kita akan kerepotan akan berdampak juga kepada jadwal trip yang sudah kita persiapkan. Selamat mencoba!

Advertisements

7 responses to “Delapan Tips nge-Trip dengan Banyak Orang

  1. Ngakak baca tips ke delapan “menjaga kesucian”, entah yang saya tangkap sepaham atau nggak. 🙂
    Keseluruhan tips betulll banget krn aku juga pernah ngalami hal serupa jadi “tour leader” temen.

    • hla daripada dibumbui kisah2 asmara kan malah jadi kurang asyik kecuali perginya cuma berdua2an aja.ya kan? hahaha…
      Jadi tour leader memang asyik, bisa tahu suka dukanya n belajar ngoordinir juga kan ya ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s