Traveling dan Kesadaran Bernegara

Kita mungkin tidak dapat menikmati keindahan bangunan rumah kita jika kita di dalam rumah. Produk semenarik apapun juga orang akan terlihat tidak menarik jika kita tidak melihat kemasannya yang unik dan menarik. Begitu juga dengan Indonesia. Kesadaran bernegara tentunya akan tumbuh jika kita sedang berada menjadi orang asing di negeri yang jauh dari tempat tinggal kita.

Pernah seorang teman men-cap saya yang tidak cinta Indonesia karena justru membelanjakan uang di negeri orang lain, traveling justru ke luar negeri dan jarang menyempatkan diri untuk berkunjung menikmati keelokan negeri sendiri. Tidak cinta Indonesia? Saya berani bandingkan betapa nasionalisme saya sekarang meluap-luap justru karena saya membelanjakan uang tidak dengan rupiah namun menyumbangkan ringgit, yuan, baht, rupee dan peso ke pemerintah negara lain.

Berkunjung ke beberapa negara justru membuat saya lebih mengetahui betapa Indonesia mempunyai penilaian berbeda-beda dari masyarakat di suatu negara. Bagaimana negara Indonesia telah mempunyai hubungan baik sebagai bangsa yang besar dan diakui oleh negara lain membuat bangga saya mampu bertahan selama berbulan-bulan sebelum akhirnya diruntuhkan oleh media massa kita yang selalu menggembar-gemborkan berita buruk dan ironis di negeri sendiri.

Terakhir saya ke Myanmar, saya bangga sebagai orang Indonesia. Muka saya yang njawani ini cukup mampu dikenal sebagai ‘Indonesia’ disana. Beberapa kali orang yang mengajak berkenalan selalu langsung menebak saya dari Indonesia, negara besar yang menanamkan banyak investasi di negara yang baru saja terinternasionalisasi setelah lebih dari setengah abad menutup diri.

Di India, sekumpulan orang-orang Jaipur yang penasaran bertanya kepada saya dan teman-teman saya darimana saya berasal dan kami serentak menjawab: “INDONESIA” . Apa tanggapan mereka? “I thought Indonesia is (small)” *sambil mendatarkan telapak tangan dan menariknya kebawah. Kebetulan kami bertiga yang berlibur ke India memang berukuran jumbo dengan tinggi diatas rata-rata. Diplomasi skala kecil-pun sudah kami lakukan dengan hanya menjawab satu kata, Indonesia.

Beda cerita di China. di kereta menuju Xi’an, orang  China yang sangat ramah terhadap orang asing rupanya penasaran bertanya darimana kami berasal setelah melihat bag-tag bertuliskan “I’m Indonesia”. “Me? Indonesia”

“Where’s Indonesia?” tanya seorang pasangan yang duduk tepat di depan kami

Ah, ini nih…bingung menjelaskan

Akhirnya saya keluarkan notebook saya dan mulai menggambar peta daratan Asia, mereka manggut-manggut. Sedetik kemudian bertanya lagi: “Malaysia?”

Yes, kita kalah diplomasi dalam hal pariwisata memang, tapi ya mbok jangan kebangetan sampai tidak tahu negara selebar Amerika Serikat dan seluas  lebih dari Brazil ini. Teringat dari teman saya yang berpesan, kalau ditanya soal negara, jawab Yini!

“Yini!…I’m Yini”

“Ah…Yini!!” mereka manggut-manggut walau secara bahasa percakapan kami tidak ada titik temunya karena kendala bahasa.

Dan, pembahasan kami pun berlanjut dengan mengeluarkan rupiah dari dompet, menunjukkan gambar-gambar keindahan Indonesia yang sudah tersave di handphone hingga membanggakan ke-duaratusempatpuluhjuta-an penduduk Indonesia.

Dalam suatu perjalanan ke Vietnam, saya bertemu dengan gadis cantik dari Holland bernama Liz. Tanpa berbasa-basi saya langsung bertanya “So, how’s Indonesia?”. Ternyata dia satu pesawat dengan saya dari Jakarta. Dia menghabiskan waktu 3 minggu di Bali dan Jawa.

“Not sure to go there twice” kata Liz

“Why?” jawab saya dengan nada kecewa

“Everyone stare at me, and expensive”

Nah, jawaban blak-blakan dari turis yang baru saja ke Indonesia ini membuat saya agak kecewa dengan orang-orang di negeri sendiri. Untuk mahal memang Indonesia mempunyai biaya hidup yang relatif mahal, terutama untuk turis yang dikenakan harga lebih tinggi dari masyarakat lokal. Budaya ngemplang inilah yang menjadi Pe-er kita sebagai masyarakat yang ‘aji mumpung’. Sudah selayaknya kita berpikir lebih jauh untuk ramah secara tarif pada orang asing yang berkunjung ke Indonesia untuk kontinyuitas penghasilan dengan menarik lebih banyak turis.

Yang agak miris, ketika saya datang menanyakan paket-paket wisata dan bus antar negara, seorang pekerja di travel agen mengira saya warga Malaysia. Saya jelaskan dengan bahasa yang terbatas dengan gambar semenanjung asia tenggara, dia malah berpikir Indonesia itu bukan sebagai sebuah negara. Kesal? Iya. Marah? Iya…jelas saya dongkol pada waktu itu. Mana ada wilayah segede gitu bukan suatu negara. Bodoh! Bodoh untuk ukuran seorang pekerja travel agen! Sangat Bodoh!

Secara tidak langsung saya selalu berharap bertemu orang Indonesia di luar negeri. Berbicara dalam bahasa Indonesia di luar negeri dengan orang-orang yang kita temui adalah amazing! Dari situlah saya menyebut tumbuhnya kesadaran bernegara berbangsa, bahwa negara kita layak dibanggakan di mata Internasional.

Bagaimana dengan perjalanan ke dalam negeri? Terakhir saya ngetrip ke Madakaripura di Jawa Timur saya agak tersentak. Orang yang berbaik hati mengajak ngobrol dan menunjukkan jalan ke air terjun tiba-tiba menarik biaya dari keluarga saya sebesar 100 ribu. Apa itu keramahtamahan Indonesia?

Advertisements

2 responses to “Traveling dan Kesadaran Bernegara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s