Before Sunset in Singapore

Ini kenapa judulnya Before Sunset? Karena hari kedua saya di Singapore malah saya habiskan bermalas-malasan tidur karena hari sebelumnya terlalu asyik jalan-jalan hingga subuh. Aktivitas saya hari kedua baru mulai setelah check out hotel jam 1 siang sehingga tidak banyak sebenernya yang saya kunjungi di hari kedua sekaligus terakhir di Singapore ini.

Setelah mandi superlama, packing ulang barang bawaan saya dan berwi-fi memberi kabar orang rumah, sayapun turun ke bawah untuk sarapan pagi di pukul 11. Oh, ada pengumuman rupanya: Breakfast available until 10.30. WAHHHHH!!! sudah mahal mahal nginap disini, cuma datang dan menikmati hotel beberapa jam sekarang sayapun telat mendapat sarapan.

“Halo, Asalamualaikum!, breakfast?”

Si penjaga hotel yang kemarin menyapa saya dengan “muslim?” itu ber-say halo kepada saya sambil membawa cucian segunung di tangannya. Tampak luarnya sepertinya seorang India yang bekerja di singapore dengan kebaikan hati yang dekat dengan surga..Rupanya si Abang yang tidak mau disebut namanya itu masih menyisakan sarapan untuk saya demi moslem brotherhood di jalan kebajikan. Indahnya dunia saya pagi itu…

Akhirnya sayapun dapat sarapan, segelas cafe latte, dan sandwich skippy kacang favorit saya. Iya, skippynya yang jarang ada di Indonesia, yang ada butiran-butiran kasar kacangnya itu lho. Dan sayapun mengoles roti 100% whole bread itu dengan beberapa sendok skippy dan diakhiri dengan eneg luar biasa mau muntah..

penasaran? Ini gambarnya

penasaran? Ini gambarnya

Setelah telepon sekretaris saya pagi itu, saya mendapatkan agenda pertama saya darinya: “Makan siang dengan Ratna”. Ratna dari teman backpacker saya (http://www.queenerva.net) , di perjalanan saya kali itu menjadi tour guide saya yang mengarrange perjalanan saya selama kunjungan diplomatik saya di Singapore lengkap dengan bantuan pinjaman kartu EZlink untuk naik kereta lebih ekonomis.

Jalur MRT di Singapore

Jalur MRT di Singapore

MRT RedLine

MRT RedLine

Di hari kedua ini saya sudah berani naik kereta listrik sendiri. Sayapun bergegas ke HarborFront lagi, tempat Ratna bekerja. Ajaibnya, hari itu ternyata teman saya mas Hang (http://initial-hkos.blogspot.com), yang agak hang itu juga sedang menuju Singapore. Wah, dari solo trip jadi group trip lagi. Sembari menunggu mas Hang datang, saya berjalan agak luntang-lantung di sepanjang pelabuhan menunggu beliau datang.

Rooftop Harborfront Mall

Rooftop Harborfront Mall

Iya, ini di lantai tiga!

Iya, ini di lantai tiga!

Lantai tiga harborfront bukanlah sebuah atap genteng, atau asbes. Mereka menyulapnya menjadi danau-danau pasir putih lengkap dengan pulau-pulau di tengahnya. Lautan yang anda lihat di atas ini berdiri di atas cor beton bangunan empat lantai yang dapat menjadi tempat untuk bersantai. Banyak keluarga sedang main air disini gratis! Jika tidak melongok ke bawah mungkin kita akan lupa kalau kita sedang berada di atas bangunan mal.

Saya dan Ratna makan di foodcourt yang sedianya adalah untuk karyawan. Nah, tips saya, makananlah di area perkantoran dimana makanan dijual dengan porsi banyak dengan harga yang lebih lokal. Saya memesan nasi biryani dengan piring sebesar seperempat meja tempat saya duduk dengan porsi untuk satu RT beserta potongan besar-besar daging kambing hanya dengan harga 5 SGD, relatif murah dibandingkan di foodcourt mal atau spot-spot turis yang lain.

Pukul empat sore, akhirnya beserta sang istri masa depan (mas Hang bukan jomblo saudara-saudara, jadi menjauhlah jika ada niatan buruk kepada beliau) tiba di Singapore Cruise Center, dermaga antar negara Singapore.

Saya dan mas Hang

Saya dan mas Hang. Courtesy dari Mas Hang

Karena sudah sore, kami segera bergegas ke Mustafa, pusat perbelanjaan tunggal yang terlengkap di Singapore. Mustafa ini dapat dicapai dengan MRT Purple Line turun di stasiun Farrer Park. Harga disini relatif murah dan barang apapun ada disini. Mulai dari coklat sampai celana dalam, rempah-rempah india sampai ke parfum yang terbagi menjadi beberapa lantai

Mustafa Center

Mustafa Center

Saya disarankan ke Chinatown untuk membeli cinderamata. Harga cenderamata di Chinatown dapat ditawar dan lebih murah dari Mustafa Center. Tapi berhubung keterbatasan waktu, saya dan teman-teman akhirnya ke Bugis Junction yang sama-sama menyediakan souvenir (yang akhirnya saya tidak beli sama sekali). Dari Mustafa kami naik bus sekitar 2 atau 3 kilometer ke Bugis Junction. Harga-harga di bugis juga bervariasi tergantung bisa-bisanya kita menawar.

diunggah atas courtesy mas Hang juga

diunggah atas courtesy mas Hang juga

Suasana di bugis agak meriah. Foodcourt dengan harga murah yang terbagi menjadi area halal dan haram membuat saya leluasa memilih tanpa takut dosa besar. Saya membeli seporsi tahu goreng dengan kuah mirip tahu gejrot dan es bandung (susu sirup frambozen). Di sebelahnya, sebuah mal dengan konsep junction, dengan banyak ruang terbuka menjadi tempat berkumpulnya pengunjung untuk menikmati air mancur menari. Pasar bugis terletak di seberang jalan dengan banyak penjual souvenir seperti gantungan kunci seharga 10 SGD untuk 18 bijinya, aksesoris HP, magnet kulkas dan jus buah yang langka dengan harga 1 SGD per cup-nya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 akhirnya saya menuju obyek terakhir saya yaitu Orchard Road. Jalan dengan banyak mal-mal mewah itu. Wah, ternyata cuma seperti itu to orchard road itu. Tidak ada satupun yang mampu saya beli dengan brand-brand yang selalu ada di mal-mal mewah di jakarta. Tapi jangan lupa, beli es Walls potong seharga 1 dollar. Itu ciri khasnya Singapore yang mungkin semua orang bisa beli.

Akhirnya pukul 9.30 saya sudah di MRT  Green Line (East West Line) ditemani Ratna untuk kembali ke Johor Bahru. Saya sudah membeli tiket bus Johor Bahru – Bandar Tasik Selatan Kuala Lumpur pada saat keberangkatan ke Singapore. Tiket bus seharga 31 MYR itu kadang habis dipesan karena saat itu weekend, banyak orang Malaysia yang bekerja di Singapore menggunakan bus untuk kembali ke rumahnya di Malaysia.

Hanya 4 jam, perjalanan hampir 400 kilometer itu ditempuh dengan bus ekspress. Pukul 4.45 pagi itu saya sudah sampai di terminal bus Bandar Tasik Selatan. Tidur-tiduran di kursi sambil menikmati wifi gratis sekitar satu jam, akhirnya saya bosan dan memutuskan untuk segera menuju KL Sentral dengan MRT.

Bandar Tasik Selatan

Bandar Tasik Selatan

Pukul setengah dua belas, setelah berlama-lama di Kuala Lumpur, sayapun naik bus AeroBus dari KL Sentral ke LCCT dan tiba di LCCT pukul 12.30 siang. Setelah mandi dan makan nasi goreng di foodcourt dengan sisa sisa ringgit yang saya miliki kemudian cek in dan terkantuk-kantuk menunggu pesawat bersama ribuan orang di gate 7 yang akan membawa saya pulang ke Yogyakarta. See you in my next 2013 trip: Nepal….(amiiiin)

Airport Gate LCCT

Airport Gate LCCT

Advertisements

4 responses to “Before Sunset in Singapore

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s