Rame-rame ke Indochina

Jalan ke Vietnam sesungguhnya adalah favorit saya dibanding banyak tempat yang saya sudah singgahi. Disamping murah, Vietnam menawarkan banyak tempat yang amazing menurut saya. Sampai detik ini baru Saigon dan sekitarnya yang sudah saya datangi di negara ini, tetapi banyak cerita yang saya bawa untuk oleh-oleh bagi siapapun yang membacanya…

Kali kedua saya ke Vietnam, tidak tanggung-tanggung, saya bersama 13 orang teman dari Indonesia. Ceritanya saya membuka postingan di salah satu situs backpacker yang cukup popular, dan hola…saya mendapatkan banyak teman baru hingga sekarang.

Setelah pergi ke Saigon untuk pertama kalinya, tiga bulan sebelum trip saya untuk kedua kalinya di bulan Maret 2012 saya mendapatkan itinerary yang pas untuk bepergian antar negara. Tiga hari di saigon adalah cukup dengan tour kota dan luar kota masing-masing sehari.

Hari pertama kami datang bersembilan dengan pesawat yang sama dan satu teman dekat dari Malaysia yang pesawatnya hanya landing 5 menit sebelum kami dari Kuala Lumpur. Hebohnya kami di Bandara Than Son Nhat sempat jadi perhatian beberapa orang. Pesawat mendarat pukul 8 malam tepat dengan personil: Saya, Arif, Wisnu, Radith, Lia, George, Fadly, dan satu orang lagi yang saya lupa namanya, dua personil dari Batam, Mas Budi dan Mbak Yusni . Amie menyusul dari Jakarta sehari kemudian.

at Than Son Nhat Airport - Saigon

at Than Son Nhat Airport – Saigon

Kami menginap di Pam Nghu Lao Street, di Saigon Balo Hostel yang bersebelahan dengan Bui Vien. Jalan ini tidak seramai Bui Vien dengan akses lebih dekat dengan jantung distrik 1 Saigon yang selalu menjadi walking route-nya turis di Vietnam.

Saigon Balo Hostel

Saigon Balo Hostel

Bui Vien menjadi kunjungan kami malam itu dan juga Ben Thant Street market yang buka di malam hari juga menarik beberapa teman saya untuk mulai nyicil belanja. Orang indonesia dikenal di Vietnam sebagai suka belanja. Mereka dengan mudah mengenali kami (walau pertama kami dikira orang Malaysia). Jika malam, pedagang Ben Thant akan pindah ke ruas jalan di kiri dan kanan Ben Thant sementara bangunan pasarnya sendiri tutup.

Cho Ben Thant

Cho Ben Thant

Hari kedua, Tour dalam kota dengan putar-putar kota di distrik satu sudah menghabiskan hari kedua kami hingga malam hari. War Remnant Museum dan Reunification Palace juga sempat kami datangi diakhiri dengan makan sore yang agak mahal hingga hampir 800.000 VND pun kami jajal disana. Distrik satu adalah wilayah yang walk-able. Tidak terlalu luas areanya namun kita dapat memilih banyak obyek-obyek peninggalan kolonial masih dijaga baik hingga sekarang. Kita akan melihat bangunan beraksen Perancis yang kental dengan detail ukiran lebih banyak dan indah daripada yang ditinggalkan belanda seperti di Indonesia.

Banyak pusat perbelanjaan modern di Saigon, tetapi coba masuk, akan mendapati sebuah bangunan besar dan sepi. Agak menarik juga mengkomparasikan konsep mal di Indonesia yang dirancang untuk refreshing dengan mal di Saigon yang hanya untuk berbelanja tanpa konsep amusement yang kuat.

War Remnant Museum

War Remnant Museum

Gaya-gayaan ngecafe tapi ngedumel pas bayar

Gaya-gayaan ngecafe tapi ngedumel pas bayar

Tidak lupa untuk makan malam, saya sempatkan makan Pho Bo, Mie Sapi favorit saya di pertigaan Bui Vien sebagai makan malam. Segarnya kuah kaldu babi sapi dengan mie lembut, irisan daging sapi dan sayuran segar daun ketumbar juga taoge panjang segar selalu pas untuk pengisi perut saya ketika ke Vietnam. Pho Bo versi street food dijual dengan harga 15 – 30 ribu VND atau sekitar 6000 – 12.000 semangkok tergantung variasi isinya. Sementara yang versi restoran dijual mulai harga 30.000 – 60.000 VND dengan segelas es teh vietnam yang bening dan roti manis mirip bolang-baling.

Pho Bo versi restoran

Pho Bo versi restoran

Street Food di Saigon

Street Food di Saigon

Nah, itinerary hari ketiga saya kali ini adalah ke Delta Mekong. Kami mengambil one day trip sembari menunggu bus membawa kami ke Phnom Penh, Cambodia. Pilihan one day trip ini dipilih pada hari terakhir karena setelah check out hotel, kami tidak perlu membawa barang berat kesana kemari namun bisa dititipkan di agen tempat kami mengikuti one day trip mereka.

One day trip akan selesai pada pukul 5 sore, bahkan tas ransel yang dititipkan tidak perlu diambil karena kami membeli tiket bus ke Phnom Penh dari agen yang sama sehingga untuk menunggu bus berangkat pukul dua belas malam. Setelah selesai one day trip kami langsung dapat berkeliling kota untuk sekedar berkeliling dan kembali ke travel agen untuk naik bus ke Cambodia.

Tiket bus dari Saigon ke Phnom Penh, Cambodia relatif murah. Sekitar 10 – 12 dollar tergantung kelas, kita sudah bisa mencoba double decker bus dengan AC yang dingin dengan lama perjalanan 12 jam. Nah, tertarik untuk grup trip ber route panjang?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s