Menang dengan Pena

Masih ingat ketika pesawat terbang masih menjadi barang mewah bagi sebagian besar orang Indonesia? Tentu saja saya masih mengalami tingginya tiket pesawat dan ‘keberhasilan’ saya yang akhirnya ‘mampu’ naik pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta dengan bangganya. Berasa manusia paling kaya di kampung ketika akhirnya saya mendarat di Bandara Adisucipto dan membawa kotak kosong snack pesawat lengkap dengan tissue dan tusuk gigi untuk souvenir yang saya simpan hingga berbulan-bulan.

Saya juga masih ingat ketika salah satu saudara saya berkunjung ke Singapore dan membelikan saya sebuah magnet kulkas. Itu mungkin barang dari ‘luar negeri’ yang menjadi oleh-oleh pertama saya seumur hidup saya. Di mata saya begitu tampak ‘mewah’nya  saudara saya yang mampu bepergian ke Singapore yang saya tahu akan menghabiskan uang berjuta-juta pada saat itu.

Dalam perjalanannya di medio tahun 90an ketika menginjak bangku SMP, saya yang pada dasarnya suka traveling ini kemudian mulai tertarik untuk membaca artikel-artikel jalan-jalan di suatu majalah bulanan langganan ibu saya. Kala itu saya membayangkan betapa asyiknya Kota Saigon di Vietnam yang berbahaya dengan lorong-lorong bekas peninggalan perang candu, atau pantai-pantai di Manila yang masih asli dengan penduduk lokal yang masih sangat sederhana. Dalam hati hanya bisa bermimpi kapan saya bisa mengunjungi tempat itu sendiri. Lima belas tahun lebih saya selalu telaten membaca kolom jalan-jalan di berbagai majalah dan Koran dengan harapan saya mampu berjalan sendiri ke negeri-negeri yang tiap hari saya lihat melalui lembar-lembar cetakan itu.

Setelah era internet masuk ke kehidupan saya, passion saya untuk bepergian ke tempat tempat yang jauh belum juga hilang. Melalui blog-blog yang saya baca, makin jelaslah apa yang diceritakan para traveler itu dengan bahasa yang lebih interaktif dan gambar yang memukau. Beruntung keinginan saya untuk bepergian kali itu sudah diimbangi dengan murahnya tiket pesawat dan kemudahan regulasi untuk masuk ke wilayah suatu negara, terutama negara-negara yang tergabung dengan ASEAN.

Asia Tenggara ternyata menjadi wilayah pertama yang saya kunjungi. Selain terjangkau, mudahnya informasi mengenai negara-negara asia tenggara membuat keinginan saya mengunjungi ‘para tetangga’ yang konon mempunyai budaya yang mirip-mirip dengan bangsa Indonesia. Terwujudlah keinginan saya untuk mengunjungi dan membaur didalamnya. Dalam hati saya menyelamati diri saya sendiri: “Selamat Datang di Dunia Internasional!”

Dengan makin boomingnya pariwisata antar negara ASEAN saya jadi makin sering berkunjung di beberapa negara ASEAN. Murahnya tiket dan mudahnya regulasi kunjungan di hampir seluruh negara ASEAN menyebabkan makin gampangnya merencakanan kunjungan sejenak sekedar menghabiskan akhir minggu di negara lain. Pada saat inilah globalisasi regional menguji negara-negara ASEAN untuk menarik devisa sebanyak-banyaknya dari interaksi pariwisata. Pertanyaannya adalah, sudah siapkah Indonesia untuk menjadi negara ramah turis?

Ketika pintu masuk Indonesia makin terbuka bagi pengunjung, terutama wisatawan regional ASEAN kita sebagai masyarakat lokal sudah saatnya mampu memberikan fasilitas dan kenyamanan untuk mendukung modal yang telah diberikan kepada Indonesia yaitu alam yang indah dan keanekaragaman budaya yang dimiliki Indonesia. Bagaimana caranya?

Banyak hal dapat dilakukan, salah satunya tanpa disadari kita menjadi duta bagi bangsa kita sendiri ketika berkunjung ke suatu negara, terlepas apakah menjadi duta yang baik atau buruk. Manusia-manusia yang berinteraksi dengan kita selama perjalanan menilai kita sesederhana dari kita berjalan, bertingkah laku dan berkomunikasi dengan penduduk lokal. Nah, disisi lain, apakah kita juga siap untuk menjadi tuan rumah yang baik bagi pelancong-pelancong yang dengan berbaik hati menghasilkan devisa bagi negara kita?

Penggunaan internet yang telah memasyarakat bagi penduduk Indonesia pada umumnya sudah seharusnya menjadi modal tambahan untuk mempromosikan Indonesia melalui halaman-halaman situs yang dibuat untuk menarik wisatawan. Sebut saja Thailand dan Malaysia yang mampu mempromosikan negaranya melalui situs-situs wisata.  Kesederhanaan suatu masyarakat, keindahan alam bawah laut, hingga foto puncak gunung yang ditangkap oleh para penulis blog seringkali lebih terlihat ‘nyata’ dan mengalahkan situs-situs yang dikelola resmi dan memakan banyak biaya.

Blog-blog yang ditulis oleh pelaku tunggal yang mungkin tidak berkecimpung di bidang pariwisata sangat membantu untuk mempromosikan pariwisata negaranya untuk mendukung langkah nyata masyarakat pariwisatanya yang telah bergerak duluan untuk memberikan fasilitas nyata bagi pelancong yang berkunjung.

Dengan blog kita juga mampu menyebarluaskan informasi mendetil yang terkadang sangat dibutuhkan oleh pelancong dan bagi saya, informasi yang cukup adalah suatu tambahan kenyamanan bagi arrangement rencana saya ke suatu negara. Saya mengalaminya sendiri ketika blog bahkan memberikan kemudahan bagi saya untuk berkunjung ke suatu tempat, kemudian merasa nyaman,  hingga akhirnya saya beberapa kali berkunjung ke tempat yang sama seperti Hochiminh City dan Bangkok. Satu blog dapat berisi informasi mengenai suatu tempat yang tidak disebutkan di blog lain. Keseriusan untuk mengarrangement blog menjadi media informasi (terutama informasi pariwisata) sebenarnya mampu menaikkan citra suatu negara dengan mudah dan murah.

Bagi saya sendiri, interaksi antar penulis blog juga dibutuhkan untuk menghindari penulisan yang simpang siur bahkan mendiskreditkan suatu object melalui tulisan-tulisan yang terpublish. Tidak terbatasnya point of view di blog justru dapat menjadi pisau bermata dua bagi citra negara Indonesia. Terlebih pada era keterbukaan dimana seluruh masyarakat dunia telah mampu mengakses informasi yang besar pada masa-masa persaingan yang tinggi ini

Harus diakui bahwa di era ASEAN Community tahun 2015 yang akan datang, Indonesia belum sepenuhnya siap untuk bersaing di bidang industri manufaktur. Bersatunya ASEAN akan membawa dampak positif dan negatif yang jika tidak dipersiapkan dengan baik, sekali lagi kita akan menjadi masyarakat penonton yang tidak teruntungkan dengan derasnya aliran perpindahan manusia dan modal. Apa sih yang paling masuk akal untuk dikembangkan pada saat ini untuk menghadapi era ASEAN Community 2015?

Mari kita bicara mengenai pariwisata. Biarkan industri manufaktur diurus oleh negara dan pihak-pihak bermodal besar. Dimulai dari yang paling sederhana dengan mempromosikan keunikan budaya sekitar kita melengkapinya dengan gambar yang menarik, memberi nomor dan alamat kontak untuk berinteraksi atau bertanya, bahkan kita bisa mengarrange kunjungan, bukankah itu dapat menjadi mata pencaharian atau bahkan sumber devisa?

Sekali lagi melalui blog, kita dapat membantu memperkuat Indonesia melalui tulisan-tulisan kita yang terpublish ke seluruh dunia dengan bahasa yang optimis dan lugas, memberi informasi yang baik dan welcome bagi penduduk dunia sehingga mereka tertarik untuk berkunjung ke negara kita. Melalui wadah yang jelas bagi para blogger kita mendapatkan update informasi mengenai kondisi riil di lapangan sehingga membantu pelancong-pelancong berkunjung ke Indonesia sesuai dengan bayangan mereka seperti halnya tulisan-tulisan di blog yang ditulis oleh orang dari luar Indonesia telah membantu banyak bagi saya untuk berkunjung ke suatu tempat. Diharapkan dengan berkunjung, follow up-nya adalah membantu menaikan besaran penanaman modal di Indonesia melalui interaksi baik lewat blog maupun interaksi langsung yang terjalin diantara masyarakat ASEAN.

Saya mulai menulis ketika menyadari bahwa sekarang siapapun dapat mempengaruhi opini terhadap suatu obyek dalam skala global. Apa yang saya tulis akan mampu mempengaruhi keputusan orang lain untuk berkunjung atau tidak berkunjung ke Indonesia. Bagaimanapun menurut saya setelah membaca yang katanya merupakan jendela dunia, menulis adalah pintu dunia dimana kita dapat keluar masuk dengan leluasa dan mampu mengatur opini masyarakat, mempersilakan orang masuk dengan pintu terbuka atau membiarkan orang lain tetap di luar dengan menutup pintunya. Jadi, mari menulis!

Advertisements

10 responses to “Menang dengan Pena

    • Thankyou sis..btw,biar ga males nih, kalo malem di penginapan tulis report sehari ngapain aja. jadi ga numpuk, sampe di rumah, tinggal nambahin foto langsung deh jadi

  1. betul banget. tapi sayang lhoo. jika hanya negara lain kita kunjungi negara kita sendiri belum. hehehehe. teman saya berprinsip “jelajahi dulu negrimu baru sambangi negara lain”. dan wah,, indonesia jauh lebih wow dari segi pantai.

    • setuju bgt.pantai2 di luar negeri cm menang fasilitas aja.tp keindahannya akhirnya artifisial aja.cuma…mmg jatohnya mahal dan sy blm mampu klo trlalu mahal.hehehe

      • ho oo. tp dari catatan kamu sihh bener juga. kalahnya kita promosinya. coba saja pemerintah terkait melakukan promosi besar2an untuk wisata Indo.pasti lebih keren :D. plannya kemana lagi brohh dalam waktu dekat?

      • belum masbro…belum kesampaian ke halong, tp katanya lebih bagus pantai2 sulawesi.betulkah? sa masih ngantor aja nih, yg nulis2 gini cuma orekan waktu luang aja…bagaimana sampeyan? sudah full di dunia travel?hehehehe

      • Hahahahha.lg hunting tiket ke sana.eh mhl2 bgt.ya sulawesi bgus masbro.tp bulan 10 toraja dl deh.sudah masuk list taon ini. Waduhh gak bisa real traveller mas bro.soalnya byk juga yg harus dipikirkan.klo situ masih muda masih bebas gentayangan #ehh travelling mkasudnya: d#.

      • Dan denger2 dari org, sulawesi lumayan mahal juga ya obyek2nya..semua dikelola berbasis harga buat turis kulit putih.zzzz…muda bro? saya 31 lho..hahahaha

      • Waduh kalo kata teman saya sihh gak juga ya. Ya mungkin tergantung individu yg merasakan sentuhan rasa timurnya Kali ya.:d. Hahahah.wah, anda senior saya dalam umur berumur. Hahaha. Yg penting semangat 17tahun.bukan bgitu Pak bro. Btw, Ada teman mau ke eropa broh, bisa minta info mengenai disana gak ya?. Boleh pak bro email nya jika tidak keberatan. Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s