Agra, City of Diversity

Image

Tidak lengkap rasanya mengunjungi India tanpa mampir ke Agra City dimana Taj Mahal dan Red Fort menjadi legenda yang terkenal di seluruh dunia. Kota ini menjadi kota yang wajib dikunjungi oleh pelancong dari seluruh dunia. Letaknya yang tidak jauh dari Delhi (sekitar 200 kilometer), ibukota India membuat hampir semua turis menyempatkan diri untuk mampir ke kota ini.

Kenapa saya memberi judul city of diversity? Agra adalah salah satu tempat pertemuan budaya Hindu dan Islam yang saya percaya sekali menghasilkan agama Sikh yang bangunan sucinya menyerupai masjid, tetapi bukan Islam. Kota ini dimana Hindu, Islam dan Sikh berdampingan dan sejujurnya (diluar scam-nya yang jauh lebih banyak dari kota lain) saya suka kota ini.

Seperti pelancong lain, saya memasukkan Agra di Itinerary perjalanan India saya. Dengan menggunakan kereta Mfp.St. Express kami berangkat dari Lucknow pukul 10.25 pagi dan tiba di Agra Cantl Station Pukul 17.00 sore. Bulan Januari di Agra suhunya terasa menusuk tulang dan agak mengganggu perjalanan kami karena kami tidak mempersiapkan baju yang pas untuk temperatur kurang dari 10’C.

Agra Canttl Station

Agra Canttl Station

Kami berjalan keluar stasiun dan disambut puluhan supir tuktuk (auto rickshaw) yang menawarkan jasa mengantar ke hotel maupun one day trip, diantar keliling kota melihat obyek wisata di Agra dan sekaligus berbelanja souvenir yang tersedia hampir di seluruh kota.

Perlu diingat bahwa scam ala India juga dilakukan supir tuktuk tersebut. Mereka seolah-olah mengantarkan kita ke tempat berbelanja souvenir yang tampak murah dan memberi diskon, tetapi mereka mendapatkan persen dari pemilk toko

Sebaiknya hindari untuk menerima tawaran dari supir tuktuk untuk membawa kita ke souvenir shop tersebut. Harga yang seolah-olah murah ternyata lebih tinggi juga dibanding pasar tradisional yang lengkap juga untuk urusan oleh-oleh. Pelancong bisa datang ke Sadar Bazaar, Raja Ki Mandi Bazaar maupun Sanjay Bazaar yang merupakan pasar tradisional disana.

Hotel yang kami tempati ternyata cukup mewah dengan kartu elektronik dan semua hal serba automatis. Kami mendapatkannya di situs www.agoda.web.id untuk mendapatkan banyak hotel yang di India ternyata berharga relatif murah. Sayangnya hotel yang berada di westbank ini terletak di pinggiran kota. Daerah turis yang cukup ramai ada di sekitar Big Bazaar dan di beberapa Bazaar lain.

Setelah beristirahat cukup, paginya kami menanyakan sewa tuktuk ke hotel, dan mendapatkan harga 500 Rupee (90ribuan) untuk membawa kami bertiga berkeliling kota ke beberapa obyek terkenal di Agra untuk seharian. Obyek yang layak dikunjungi di Agra antara lain:

  1. Taj Mahal. Siapa yang tidak kenal Taj Mahal. Obyek ini terletak relatif di tengah kota. Pintu masuk yang terbaik ada di South Gate melewati puluhan pedagang souvenir yang dapat ditawar. Taj Mahal tutup setiap hari Jumat dengan entrance fee sebesar 750 rupee.

    Taj Mahal

    Taj Mahal

  2. Agra Fort. Bangunan berwarna merah ini sering disebut juga Red Fort. Red Fort ini ternyata mempunyai kembaran di Delhi, namun lebih terawat yang di Agra. Pengunjung akan dikenai entrance fee sebesar 250 rupee.

    Agra Fort

    Agra Fort

  3. Itmad-Ud-Daulah’s Tomb atau dikenal dengan Baby Tomb. Bangunan ini merupakan ‘versi kecil’ dari Taj Mahal.

    source: www.the-indian-maharaja.com

    Itmad Ud Daula

  4. Fatehpur Sikri. Bangunan sangat luas yang sempat dinamai the city of victory ini terletak agak jauh diluar kota. Pengunjung yang kesana dapat naik bus umum atau menyewa mobil dengan harga 1000 rupee yang tersedia di banyak tempat. Masuk obyek ini akan dikenai entrance fee sebesar 300 rupee.

    Fatehpur Sikri

    Fatehpur Sikri

  5. Balkeshwar Temple, Mankameshwar Temple, Jama Masjid, Mariam’s Tomb dan Mehtab Bagh. Jika ada keterbatasan waktu kunjung, maka saya akan memilih mengunjungi tiga tempat utama di Agra yaitu Taj Mahal, Agra Fort dan Fatehpur Sikri.

Seperti halnya Rajashtan di sebelah barat India, Uttar Pradesh Province yang mencakup Lucknow, Agra dan Varanasi merupakan tourist spot. Banyak bangunan peninggalan bersejarah ada di dua provinsi ini.

Setelah cukup puas berkeliling, bodohnya, saya meminta supir tuktuk untuk membawa kami ke pusat oleh-oleh. Kami dibawa oleh supir tuktuk (yang belakangan menjadi penyihir jahat yang ikut memaksa kami beserta si penjual) ke tempat souvenir. Gems, Banana Saree (Kain sari dengan pewarna dari pisang) dan kerajinan marmer merupakan souvenir yang banyak terdapat di Agra. Walhasil dengan bujuk rayu supir tuktuk yang masih tampak baik itu dengan kemarahan besar si penjual akhirnya kami berhasil dipaksa untuk memberi sebuah banana sari seharga 1200 rupee (dari harga ditawarkan 2750 rupee) yang sampai Indonesia tidak tahu harus diapakan…

Setelah cukup di Agra, dengan menginap semalam (dua malam sebelumnya kami selalu menghabiskan malam di kereta), dan seharian berkeliling, kami pun memutuskan untuk meminta supir tuktuk mengantar kami ke Agra Canttl Station dan menunggu kereta  yang akan membawa kami ke Delhi di kedai fastfood comesum di dalam stasiun.

Untuk cool link mengenai sejarah bangunan-bangunan terkenal di India: www.raditztyo.wordpress.com

Advertisements

3 responses to “Agra, City of Diversity

  1. Menarik sekali infonya. Saya tertarik melakukan trip ke india. Setelah saya lihat budget airline, mereka tidak ada yg landing di airport delhi. Blh mhn infonya, bandara yg terdekat dari delhi? Terimakasih.

    • setahu saya yg budget smcm airasia cm ke calcutta, chennai dan thirucipavali (dan mgkn tiruchipanapuram). kalo utk budget lain ada mihinlangka, tp saya jg blm pernah naik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s