Varanasi, Secuil Surga di Bumi

Sekitar 700 kilometer di sebelah barat Kolkata, setelah menempuh perjalanan 13 jam lebih dengan kereta Vibhuti Express kami pun tiba di di Varanasi pada pukul 09.00 pagi. Udara dingin menyambut kami dan memang agak kaget juga karena kereta AC tier 3 kami ternyata menggunakan pemanas. Udara dingin sekitar 12 derajat celcius memaksa saya banyak bergerak agar tidak terlalu terasa dingin.
Seorang teman yang telah berkenalan dengan orang lokal ternyata memaksa kami menggunakan ‘fasilitas’ yang telah diaturnya seolah-olah kami mendapatkan harga teman. Kami dijemput oleh Dave, seorang yang tinggal di Varanasi dan menyuruh kami menaiki tuk-tuk, semacam bemo dengan harga 250 INR yang ternyata malah mengarahkan kita ke ujung Varanasi yang sepi. Scam semacam ini ternyata memang sering ditemui selama kami di India. Tidak cukup sampai situ ‘kenalan’ baru itu juga menyarankan kita menitipkan tas dengan biaya 80 INR dan menaiki boat menyusuri Varanasi dengan biaya 200 INR per orang.
Bentuk kota Varanasi yang memanjang ternyata mempunyai pusat keramaian untuk turis di tengah-tengah kotanya, bukannya dibawa ke pinggiran kota seperti yang saya alami. Hanya perlu berjalan sekitar 30 menit dari stasiun, melewati bangunan toko-toko yang memang cukup berdebu tetapi bisa membeli beberapa barang terutama produk garmen disana. Cukup bertanya dimana letak sungai Gangga dan akan ditunjukkan jalan yang mudah (seingat saya hanya perlu belok 3x untuk menuju pusat keramaian sungai Gangga)
Setelah berusaha melepaskan diri dari jeratan maut si  fake couch dari situs couchsurfing kami berjalan menyusuri tepian sungai yang ternyata tidak terlalu jauh jaraknya tidak seperti yang diingatkan oleh fake couch yang kami temui tadi.
Sepanjang tepian Gangga yang melewati Varanasi City terdapat setidaknya 84 ghat, yaitu tempat pembakaran mayat umat Hindu. Ghat tersebut hampir seluruhnya masih beroperasi. Tubuh seorang yang telah meninggal dibakar di Ghat dan abunya ditaburkan ke Sungai Gangga.
Hot Spot saya di tepi Sungai Gangga
Saya berjalan pelan menikmati damainya tepian Gangga sore itu. Disamping itu kereta saya yang akan membawa kami ke Lucknow, kota selanjutnya masih akan berjalan pada pukul 23.00 malam hari. Saya sempat duduk dan berkenalan dengan seorang Israel yang cukup baik. Dia menyayangkan bahwa dirinya tidak dapat masuk ke beberapa negara di asia tenggara karena konflik negaranya dengan banyak bangsa di dunia.
Sampai di spot paling ramai di tengah-tengah perjalanan saya memutuskan naik ke atas meninggalkan tepian gangga. Ternyata kami tepat berada di ujung pasar tradisional yang ramai menjajakan berbagai macam barang mulai dari buah-buahan hingga souvenir.
Varanasi mempunyai produksi kain Sari yang melimpah dengan corak dan motif khas kota ini. Sepanjang perjalanan saya, Sari Varanasi ternyata paling murah dibanding kota lain yang saya singgahi. Beberapa kain hanya berharga 200 INR atau sekitar 36000 IDR untuk 6 meter kain sari. Saya pun membeli beberapa potong kain disana untuk souvenir keluarga di Yogya.
Saya sarankan membeli oleh-oleh disini. Harga yang ditawarkan tidak tinggi seperti di kota-kota lain. Hanya dengan menawar sedikit turis akan mendapat harga yang layak untuk sepotong pashmina, tas-tas serut dan kain sari berkualitas baik. Segera saya memperoleh beberapa souvenir tanpa harus merogoh kocek terlalu banyak.
murah lho ini 😀
Perjalanan masih panjang, saat kami meninggalkan riuh ramai pasar, waktu masih menunjukkan pukul enam sore. Kamipun memutuskan untuk makan malam karena memang sejak pagi belum makan apapun. Bagi umat muslim, India bukan suatu masalah besar untuk mendapatkan makanan halal. Kebanyakan makanan India adalah vegetarian food tanpa menggunakan daging. Penjual makanan non veegetarian biasanya adalah orang Islam dan hanya menyediakan daging ayam dan kambing saja. Jangan bermimpi makan sepotong beef burger besar yang berlemak di negara ini.
Pilihan saya pun jatuh pada restoran nasi biryani yang menyediakan daging kambing dan ayam di pinggir jalan menuju stasiun.
Nasi Biryani di Varanasi
Ternyata porsinya cukup banyak! Seporsi nasi Biryani biasanya dimakan beramai-ramai. Tapi kami terlanjur memesan satu orang satu porsi, dan ajaibnya karena kelaparan, porsi sebesar itu juga habis dimakan sendirian.hahahaha…
Berbekal nasi porsi besar di ujung pasar Varanasi, kami memutuskan untuk jalan kaki menuju stasiun. Setelah tanya sana sini, akhirnya didapat jalan menuju Varanasi Junction Station yang jaraknya ternyata tidak jauh. Wah, menyesal membuang uang 250 INR untuk sewa tuk-tuk yang justru membuat kami malah jauh dari pusat keramaian…
Kami berjalan sekitar 2 kilometer sebelum akhirnya kami sampai di stasiun Varanasi, tempat kami sampai di Varanasi pada pagi hari tadi. Karena waktu tunggu masih terlalu lama, kamipun mampir lagi di restaurant memesan dua roti pharata berisi kentang kari dan teh susu khas India yang menghangatkan badan di tengah udara dingin Varanasi yang makin menyengat.
Pukul 23 lebih, setelah terlambat dari jadwal, kereta akhirnya datang membawa kami ke kota berikutnya. Kali ini kereta yang kami pesan adalah kelas ekonomi seharga sekitar 36 ribu rupiah yang tidak menggunakan penghangat udara. Perjalanan akan makan waktu sekitar tujuh jam dengan rangkaian kereta Bsb.Be Express. Beberapa Jendela yang tidak tertutup rapat menghembuskan angin super dingin membuat tidur tidak nyenyak malam itu.
Beberapa saran saya yang dapat dilakukan di Varanasi:
  1. Mengunjungi beberapa Ghat kalau pas ada upacara pembakaran mayat.  Perlu diingat, jangan mengambil gambar di dalam ghat ketika upacara berlangsung
  2. Mengunjungi obyek wisata lain yang terkenal seperti: Ramnaghar Fort, Jantar Mantar (Observatorium kuno India), Kashi Vishvanat Temple, Durga Kund Temple
  3. Jika membeli souvenir, perbandingan dengan kota lain, Varanasi merupakan yang termurah. Pashmina, Baju-baju Kurta, Sherwani, dan kain Saree India dijual murah disini. Terdapat central market di tengah-tengah Varanasi yang harganya bisa ditawar sampai separuh harga.
  4. Tuktuk, untuk seputaran kota hanya berkisar 40 – 100 INR, jika menawarkan lebih dari itu, sebaiknya ditinggal pergi segera, jangan berdebat karena akan mengundang lebih banyak tuktuk driver yang datang untuk menawari dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya akan berada di kerumunan orang adu mulut untuk menentukan harga yang termurah…
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s