Beijing – Finally Snowy

Perjalanan saya ke China untuk pertama kalinya ini saya tutup dengan mengunjungi ibukota negara China, Beijing. Kota modern dengan penduduk hampir dua kali kota Jakarta ini sekarang menjadi salah satu kota terpenting di dunia. Perjalanan saya menuju kota ini ditempuh dengan kereta dari kota Xi’an yang terletak di barat daya Beijing selama dua belas jam, dan hal yang akan paling saya ingat adalah kebaikan hati kota ini menumpahkan salju di kepala saya, untuk pertama kalinya dalam seumur hidup saya.

Pukul 7.35 pagi itu saya tiba di Beijing West Station disambut salju yang melimpah ruah. Setelah bertanya kesana-kemari dengan bahasa yang tidak nyambung dengan bagian informasi, polisi maupun penumpang disana, akhirnya saya dapatkan informasi bahwa Beijing West Station tidak terhubung dengan line subway yang menghubungkan Metro Beijing Subway di pusat kota. Saya pun berjalan ke bus stop di bagian depan stasiun untuk menuju ke stasiun Metro terdekat, Changchunjie.

Dari stasiun Changchunjie kami kemudian menempuh perjalanan ke Stasiun Xiamen dimana hostel yang sudah kami booking terletak tidak jauh dari stasiun itu. (Untuk mengetahui map dari Beijing Metro Subway dapat dilihat di tautan berikut: http://chinatravelgo.com/wp-content/uploads/2012/03/Beijing-Subway-map-for-Dummies-2012.jpg )

Sekali lagi, saya beruntung memilih Hostel King’s Joy yang letaknya ternyata sangat dekat dengan Tiananmen Square. Hotel yang ternyata bintang tiga ini terletak di sekeliling obyek terkenal, dan juga di tengah tengah blok Hutong yang terkenal. Saya dan teman saya kemudian mengonfirmasi kedatangan dan segera menyusun itinerary perjalanan kami hari itu.

Tiananmen Square

Pada saat itu saya takjub melihat bagaimana China telah membangun negerinya selama ribuan tahun. Bangunan-bangunan peninggalan kejayaan masa lalu seakan masih leluasa unjuk gigi dengan leluasa, tidak seperti banyak bangsa lain yang begitu mengagungkan modernisasi dan melapukkan apa yang telah ditinggalkan pendahulunya. Tiananmen yang agung dengan Forbiden City masih berdiri kokoh di kejauhan tanpa dilatarbelakangi kemewahan gedung-gedung pencakar langit yang mengganggu pemandangan.

Bangsa ini juga memilih untuk mengubur modernisasi keseluruhan di bawah tanah dalam bentuk jalur-jalur subway canggih yang malang-melintang dibawah tanah dan membiarkan fondasi negara yang telah terbangun ratusan bahkan ribuan tahun justru berada diatas tanah sebagai jati diri bangsa hingga saat ini. Hanya beberapa meter persegi bangunan modern, yang menjadi pintu masuk Subway yang sederhana seakan tidak cukup indah untuk berdiri di tengah bangunan-bangunan bersejarah yang besar dan indah di komplek Tiananmen itu.

Kemudian, di siang hari yang dingin itu, kami meninggalkan hotel untuk menuju kuil terkenal yang terletak di sisi selatan pusat kota, tidak jauh dari hotel kami. Cukup menaiki bus yang bertarif satu CNY, dalam waktu 20 menit perjalanan dengan mata kami diputihkan oleh ratanya salju di Beijing,  kami tiba di pintu masuk pelataran Temple of Heaven. Sepertinya tepat sekali pilihan saya untuk ke Beijing di bulan Desember. Disamping bulan Desember adalah bulan low season untuk kunjungan turis, pemandangan Beijing di hamparan salju seakan tambahan keindahan yang damai.

Pintu masuk Temple of Heaven terletak setelah pelataran parkirnya. Pintu utama tersebut menjadi bagian awal dari bagaimana bangsa China bercerita tentang kehidupan melalui letak bangunan yang berurutan, satu bangunan di depan menjadi prolog bangunan di belakangnya. Saya pun segera membayar tiket masuk seharga 10 CNY untuk masuk kedalam taman yang melingkari pusat bangunan Temple of Heaven tersebut melalui gerbang selatan, Zhaoheng Gate. Temple of Heaven ini didirikan pada abad 14 oleh Yongle Emperor dimana Forbidden City juga mulai dibangun.

157

Salju dimana-mana

154

.

Untuk masuk ke pusat dari Temple of Heaven ini saya membayar tiket lagi sebesar 20 CNY di Gate of Prayer, karena di gerbang utama saya tidak membeli tiket terusan seharga 30 CNY. Komplek inti dari temple of Heaven dinamai ‘Hall of Prayer for Good Harvest’. Bangunan bulat tiga susun ini merupakan pusat persembahyangan yang sangat indah. Ukiran kayunya dengan detail yang komplek diwarnai dengan warna dominan merah dan biru

Hall of Prayer for Good Harvest

Hall of Prayer for Good Harvest

Bagian Dalam Hall of Prayer for Good Harvest

Bagian Dalam Hall of Prayer for Good Harvest

Di kiri dan kanan Hall of Prayer for good harvest berdiri suite hall yang kini digunakan untuk museum barang-barang peninggalan mulai dari masa Yongle Emperor, Jiajing Emperor hingga Qianlong Emperor. Sayang sekali di dalam bangunan museum tidak diperbolehkan untuk mengambil gambarnya.

Gate of Prayer for Good Harvest

Gate of Prayer for Good Harvest

Setelah cukup menikmati bagian Hall of Prayer for Good Harvest, sayapun meninggalkan bangunan inti dari Temple of Heaven ini untuk menuju bagian lain di sebelah selatannya, Circular Mound Altar. Sekali lagi bangunan altar ini berbentuk bulat yang melambangkan bumi dan surga. Bangunan yang dibuat dengan kayu di Temple of Heaven kebanyakan dipagari oleh batu pualam putih, termasuk bangunan Circular Mound Altar.

Circular Mound Altar

Circular Mound Altar

Wah, cukup puas juga berkunjung ke obyek pertama di Beijing ini. Sayang sekali udara yang makin dingin memaksa saya segera meninggalkan komplek yang sangat luas ini. Sebagai souvenir saya menyempatkan membeli miniatur Temple of Heaven yang dapat dirakit sendiri dengan harga cukup murah, cuma 20 CNY dari harga awal 100 CNY. Saya pun segera kembali ke daerah dekat hotel untuk makan malam.

Agak susah juga ternyata kembali ke hotel kalau kehilangan arah. Saya dan teman saya sempat malah nyasar dan memaksa kami berjalan cukup jauh sebelum dapat menemukan kembali jalan besar yang terdapat bus kembali ke arah hotel. Tetapi sekali lagi nyasar justru membawa kami ke tempat-tempat yang mungkin tidak akan ditemukan dalam peta untuk turis.

Advertisements

14 responses to “Beijing – Finally Snowy

  1. Pingback: Xian, | Me Against the Distance·

  2. disana pakai tourguide gak ya?boleh mnta contact person gak ya?soalnya saya ingin tanya beberapa hal.terima kasih

    • wah, couchsurfing ga banyak membantu…ga banyak member online saya liat..kalo hotel sbnrnya agak g gitu masalah karena murah, yg susah itu mmg transportasi antar kotanya krna jauh2 harus pake kereta

  3. zav…pesan tiket train nya mudah ngak di bulan januari? aq udah beli tiket buat tahun depan. tujuan disana beijing-harbin-shanghai-hangzhou-guilin. kmaren langsung beli tiket di stasiun? apa sebaiknya pesan online atau minta bantuan hotel yah? soalnya mau pesan tiket train tipe D,T atau Z bukan yg G..apa di januari termasuk padat? takut keabisan tiket. need info..

    • kalo januari deketan sama imlek..jadi sebisa mungkin pesen duluan. kalo saya dipesenin sama temen yg asli china mbak hilda. kalo cm untuk ke harbin sih pilihan banyak mba, jadi g trlalu kuatir.setahu saya harbin belum ada kereta G.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s