Jakarta – Kuala Lumpur – Chengdu

China selalu menarik perhatian saya, keanekaragaman budayanya yang banyak terbawa ke Indonesia melalui label ‘Made in China’ itu membuat saya tertarik untuk mengunjungi sendiri pabrik-pabrik besar dengan cerobong asap yang menghitamkan tembok-tembok berusia setua ratusan tahun peradaban yang mereka bangun dengan penuh intrik dan kedamaian.

Di awal tahun 2012 ketika tabungan saya banyak-banyaknya saya memberanikan diri untuk membeli tiket yang kebetulan berharga sangat layak untuk sekedar memenuhi rasa keingintahuan saya mengenai asal usul salah satu nenek moyang bangsa Indonesia ini. Saya membeli tiket Jakarta Chengdu (transit Kuala Lumpur) dengan harga 758.000. Dengan penerbangan sekitar 6 jam saya pikir cukup layak untuk dibeli. Saya juga sekaligus membeli tiket Tianjin – Kuala Lumpur dan Kuala Lumpur – Solo yang belakangan – alhamdulilah – direroute semua oleh Air Asia menjadi Beijing – Kuala Lumpur dan Kuala Lumpur Jogjakarta, sesuai dengan tujuan saya semua. Tiket pulang saya beli dengan harga masing-masing 1.150.000 dan 297.000.

Singkat kata pagi itu saya mengawali trip yang sudah dipersiapkan matang karena lamanya waktu tunggu dari beli tiket hingga berangkat. Saya memilih menggunakan Bus Damri dari Kampung Rambutan untuk bertemu teman-teman seperjalanan, Andri, Novi, dan Lia yang telah duluan sampai ke Terminal 3 Soekarno Hatta. Sesampai disana satu orang teman saya yang kebetulan membawa uang yuan kami semua malah berhalangan hadir. Sempat agak panik juga karena Yuan yang saya pesan sesuai dengan budget yang telah saya susun itu merupakan budget total yang saya persiapkan untuk perjalanan ke China. Akhirnya di detik-detik terakhir saya tukarkan uang sisa yang ada di rekening saya dan membawa uang 600 Yuan, dan 200 dollar saja atau sekitar 1800 yuan dari total budget 2300 yuan yang saya perkirakan akan habis untuk perjalanan di China.
Tidak hanya saya, teman-teman yang ikut ini juga kebetulan tidak bawa uang yuan sama sekali. Alhasil kami naik pesawat dengan hanya membawa bekal uang yuan seadanya saja.

Pesawat terbang tepat waktu ke Kuala Lumpur di pukul 11.30 WIB. Berbekal bismillah saja kami berempat meninggalkan Indonesia.

Pukul 2.30 kami tiba di Bandara Internasional Kuala Lumpur – LCC Terminal dan masuk imigrasi karena tidak disediakan ruang transfer untuk penerbangan Kuala Lumpur – Chengdu. Penerbangan kami yang menuju Chengdu dijadwalkan pukul 18.30 dan akan mendarat di Chengdu pukul 22.45. Setelah melalui imigrasi kami menuju ke foodcourt untuk makan siang dulu dan beristirahat menyiapkan fisik sebelum penerbangan yang cukup jauh. Setelah cukup bosan menunggu di foodcourt kami akhirnya masuk dan benar-benar takjub dengan antrian yang sudah mengular. Setelah santai-santai, kami harus lari-lari ke check in counter dan imigrasi sampai harus memotong antrian karena panggilan pesawat sudah diulang-ulang. Thank’s God akhirnya setelah lari-lari dan ada beberapa barang teman yang tertinggal di imigrasi akhirnya kami masuk ke pesawat Airbus besar dengan 9 row tempat duduk itu dan dipenuhi dengan warga negara China yang agak meriah itu…

Tips perjalanan dengan transit tiket terpisah:
  1. Beli tiket dengan jadwal diantara dua penerbangan lebih dari 8 jam, bahkan jangan dibawah 6 jam karena sekarang sering ada keterlambatan cukup lama.
  2. Untuk transit lebih dari semalam, belilah tiket shuttle bus dua arah, akan hemat 2 MYR.
  3. Belum banyak yang tahu bahwa di Malaysia ada bus langsung dari LCCT ke Terminal Pudu Raya dengan StarShuttle. Di dekat terminal Pudu Raya terdapat Jalan Petaling dan sekitarnya dimana harga kamar hotel relatif lebih murah dari tempat sekitarnya. Kebanyakan pelancong lebih tahu bahwa harus ke KL Central dulu baru naik LRT ke berbagai tempat menginap
  4. Bandara di LCCT cukup ketat menimbang barang. Pada saat cek in, jangan dibawa barangnya ke counter cek in, tas yang terlihat besar akan ditimbang. Sebaiknya titip teman atau jauhkan dari penglihatan mbak-mbak cek in counter
  5. Pada tangga berjalan (eskalator) menuju imigrasi LCCT, usahakan melewati awal eskalator dimana barang bawaan kabin akan ditimbang ulang ketika banyak orang, beri kesan bahwa anda buru-buru maka barang kabin akan terhindar dari penimbangan ulang oleh awak maskapai.
  6. Jika sangat terpaksa tidak membeli bagasi namun sadar bahwa barang bawaan kabin cukup berat/terlihat cukup besar, nongkronglah di antrian cek in yang sama dengan penerbangan kita, dan jelilah melihat penumpang yang membeli bagasi namun barang bawaannya ternyata ringan. Numpang pada orang itu (jika boleh, dan jangan lupa senyum termanis anda) dan syukur punya uang extra untuk menraktir yang bersangkutan dengan Dunkin Donuts paket 1 atau 2 seharga 9.8 MYR. Anda akan berhemat lebih dari 80.000 rupiah.
  7. LCCT merupakan hotel besar yang dapat dijadikan tempat menginap oleh pelancong yang transit atau menginap karena penerbangan terlalu pagi.  Tempat tidur paling nyaman ada di terminal keberangkatan internasional yang banyak steker listriknya dengan sinyal wifi terbaik. Tempat mandi ada di toilet diantara international departure dan domestik departure. Agak sedikit tersembunyi, tapi dilengkapi shower dan meja kecil untuk meletakkan barang bawaan yang cukup banyak. Selamat mencoba!
Advertisements

2 responses to “Jakarta – Kuala Lumpur – Chengdu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s