Amsterdam – Red Light City

Siapa yang tidak kenal Amsterdam? Kakek dan Nenek saya yang sudah meninggalpun tahu kota ini walaupun tidak dapat menunjukkannya dalam peta. Suatu ketika saya mendapat kesempatan mengunjungi Amsterdam, surga para Gay, Lesbian dan penghisap ganja ini merupakan ibukota dari Belanda, ‘Meneer’ kita selama 350 tahun lebih.

Dengan menumpang pesawat Emirates saya meninggalkan Jakarta dengan kantuk yang tidak tertahankan. Pukul 00.20 waktu indonesia bagian barat saya meninggalkan Indonesia yang gerah dan panas itu. Selama 8 jam 30 menit saya hampir mati gaya karena bosan di pesawat hingga akhirnya pesawat mendarat di Abu Dhabi untuk transit selama dua jam disini. Kelap-kelip lampu di Abu Dhabi tampak wah karena dipancarkan dari hutan beton di tengah padang, tampak seperti koloni di Mars itu.Sayang sekali saya tidak dapat kesempatan untuk sekedar keluar melihat-lihat bandara di tepi pantai yang luas itu. Dua jam di transit area akhirnya pesawat kembali berangkat menuju Belanda dengan lama perjalanan masih enam jam tiga puluh menit.

Pukul 12 siang saya mendarat di Bandara Schipol di Amsterdam disambut dengan salju dan suhu dingin yang menusuk tulang.

Advertisements

4 responses to “Amsterdam – Red Light City

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s