Saigon – New Face of Vietnam

saigon rush hours
Siang itu, 15 November 2011 saya sampai jakarta untuk memulai perjalanan saya backpackeran ke luar negeri. Dari Stasiun Gambir saya masih menyempatkan makan di Holycow steak yang membuat saya penasaran sejak dulu (hasilnya: biasa saja) Setelah cukup makan, kami pun naik bus dari bandara via Blok M Plaza.
Setibanya di bandara saya masih cukup santai dan tanpa sadar waktu usudah sangat mepet buat sekedar cek in. Lari-larilah saya ke Terminal 2 dan check in di counter AirAsia. Setelah sampai ke imigrasi, saya agak panik karena panggilan terakhir pesawat ke Vietnam telah diteriak-teriakan melalui corong puluhan speaker di terminal 3 itu. Setelah menerobos antrian sambil senyum-senyum tanpa masalah, saya malah diberi tampang muram durjana oleh petugas imigrasi. Percaya atau tidak, setelah sampai ke pesawat, pintu langsung ditutup dan pesawat berangkat…Wah berasa raja ditungguin penumpang satu pesawat..
Pesawat berangkat ontime jam 16.45 sore dari Jakarta ke Hochiminh City.Sekedar informasi, ini pertama kalinya ngetrip ke luar negeri,SENDIRIAN, dan hampir tertinggal pesawat *inhale exhale*
Gambar diatas adalah sayap sebelah kiri dari AirAsia Jakarta – HoChiMinh City (penting?)
Pesawat tiba di Saigon pukul 19.12 waktu Vietnam Bagian Saigon. Setelah saya jalan keluar sendirian dan berlama-lama di toilet mikirin what must i do here! Dan akhirnya setelah kembali ganteng dan rapi, barulah saya keluar ke imigrasi dan akhirnya, taraaa….cap saya dibubuhkan cap luar negeri plus tanda tangan mister Nguyen..
 Tan Son Nhat, Bandaranya Hochiminh City tidak terlalu besar tetapi merupakan salah satu bandara yang elegan dan bersih yang pernah saya lihat seumur-umur.
Teringat pesan seorang teman, carilah Vinasun taxi. Dengan Vinasun taxi maximal biaya dari Bandara Tan Son Nhat ke Distrik satu akan berkisar 150.000 Dong (seharusnya 1 Vietnam Dong = 0,5 IDR tapi pada saat itu saya memperolehnya dengan kurs 0,8, rugi bandar!).
Setelah mencari keliling lobby, akhirnya saya berjumpa lagi dengan bule swiss yang saya ketemu di pesawat yang telah berkenalan dengan seorang bule perempuan dari Belanda kami bertiga dapat sharing cost taxi sampai Distrik 1 di Jalan Pam Ngu Lhao yang memang merupakan area turis di Saigon…Dari bandara, taxi meter menunjukkan 110.000 Dong Vietnam. Dengan bujuk rayu supir yang bisu bahasa inggris, kita kena palak jadi 140.000 Dong dan dibagi tiga.
Distrik 1 merupakan surga para pelancong di Saigon yang dikenal sekarang dengan namaHCMC (Ho Chi Minh City). Selain deket dengan obyek-obyek wisata bangunan-bangunan tua, hotel-hotel murah bertebaran di sepanjang Pam Ngu Lhao Road. Sebenarnya menurut saya, untuk ke HCMC tidak perlu membook hotel via web. Beberapa hotel menawarkan harga lebih murah ketika beli langsung. Saat itu saya memboking Saigon Backpackers Hostel Hotel ini sangat bersih dan tidak ramai oleh bising kendaraan karena di ujung Pam Ngu Lhao Road, plus karena masuk gang kecil. Untuk yang langsung book disana, semalem akan dihargai $.9.00 dan harga untuk 2 malam mendapat diskon menjadi $.16.00. Murah untuk ukuran kita di Indonesia karena menggunakan AC dan kipas angin. Wifi hotel benar benar dapat diandalkan juga untuk sekedar browsing-browsing dari mobile phone
Berkenalan dengan Lissete yang asli Belanda itu, saya pasrah akhirnya harus bekerjasama dengan penjajah Indonesia itu. Ternyata Lissete cukup menyenangkan untuk menjadi teman perjalanan. Kami berjalan ke beberapa obyek di distrik 1 antara lain
1. Ben Tahn Market buat beli souvenir. Jangan lupa untuk menawar barang dengan keji jika berkunjungkesini. Magnet kulkas dari $.1.00 per piece, akan didapatkan dengan harga $.2.00 untuk setiap 5 pieces
2. Noi Quy. Taman kota yang sering digunakan untuk prewedding foto.
3. Bảo tàng Chứng tích chiến tranh (War Remnants Museum / Musium Perang Vietnam)
Museum ini tutup jam 12.00 – 14.00. Foto-foto kekejaman Amerika pada perang Vietnam terpampang jelas disini. Musium ini wajib kunjung. Apalagi tiket masuknya yang chanya15.000 Dong Vietnam
4. Gereja Katedral Vietnam
Bangunan sekitar Katedral Saigon juga dapat menjadi alternatif obyek foto. Ada kantor pos Ho Chi Minh yang menempati gedung tua yang penuh detail klasik ala Perancis.
5. Saigon Water Puppet (entrance fee: 100.000 Dong)
6. Tran Hung Dao Colosseum
Di deket statue ini terdapat dermaga kecil untuk menaiki kapal dengan rute sungai yang membelah kota hochiminh.
Food:
Terdapat banyak pilihan makanan di Saigon.  Pelancong dapat makan makanan Vietnam yang tentu saja tersebar di seluruh kota. Favorit saya jatuh pada Pho Bo dan Pho Ga, semacam mie kuah dengan citarasa khas. Harga yang ditawarkan juga masih terjangkau. Untuk gambar dibawah ini, semangkuk sup dihargai 25.000 VND. Dan dengan lebih banyak daging akan mencapai harga 50.000 VND. Disamping itu banyak sekali cafe-cafe yang menyediakan makanan eropa dan banyak juga restoran India di sepanjang Pham Ngu Lhao maupun Bui Vien (dua jalan di distrik satu yang menjadi area backpacker di Saigon)

Sebenarnya, di kota ini tidak banyak yang bisa dinikmati. Beberapa pelancong akan memilih untuk one day atau half day tour ke luar kota Saigon. Banyak biro perjalanan akan menawarkan one day tour dengan harga 7-9 USD untuk one day tour ke ChuChi Tunnel plus Cao Dai Temple atau cruising Delta Mekong yang sebenarnya memiliki scene tidak jauh berbeda dengan Indonesia.

Malam hari di Saigon, terutama di distrik satu sangat happening. Ratusan orang berkumpul sekedar duduk-duduk di pinggir jalan untuk menikmati bir lokal atau kopi tetes ala vietnam. Kopi ini diseduh langsung di atas gelas dengan saringan khusus, dapat diminum tanpa susu (12.000 VND) atau dengan susu (15.000 VND)

Setelah saya rasa cukup di Saigon dua malam, saya pun memutuskan untuk pergi ke kota selanjutnya, Phnom Penh di Cambodia. Bus ternyata cukup banyak tersedia $.10.00 buat ke Kamboja yang jadwalnya masing-masing jam: 08.30, 11.30, 15.00, 19.00 dan 23.30 malam. Saya diberi informasi, bahwa bus paling nyaman adalah bus pukul 23.30. Bus Double decker dua dek atas bawah, yang bawah untuk membawa barang – barang dan yang atas adalah dek penumpang. Karena ingin melihat pemandangan, saya memilih bus pagi jam 08.30. Perjalanan ke Phnom Penh yang sesuai jadwal 5 jam ternyata hampir 7 jam karena busnya banyak berhenti
Perjalanan ke Phnom Penh agak parah, AC yang pagi terasa dingin, di tengah hari berasa di dalem oven. Pemandangan alamnyapun lebih banyak tandus dengan rawa-rawa yang ditumbuhi banyak lotus.
Nah, sampai disini Vietnam Storynya selesai….
Dari tanggal 15 – 17 November 2011, pengeluaran saya agak banyak yang sebenarnya bisa dihemat. Total pengeluaran saya dari Indonesia termasuk hotel, tiket pesawat, airport tax, makan di Pizza Hut , dan seluruh transport sekitar Rp.1.056.000,- (kurs tukar saya 1 VND = 0,8 IDR, dan $1.00 = 8900 IDR)
Advertisements

One response to “Saigon – New Face of Vietnam

  1. Pingback: Backpackeran ke IndoChina via Perjalanan Darat | Me Against the Distance·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s